Langsung ke konten utama

FIFA CLUB WORLD CUP 2025: Inter dan Menterrey Melaju ke Babak 16 Besar Usai Kalahkan Lawannya




MENJUAL HARAPAN - Putaran puncak FIFA Club World Cup 2025, pertandingan di Grup E  Urawa Reds versus Montererrey, dan Inter lawan River Plate.

Babak penentuan fase grup, Monterrey taklukkan lawannya Urawa Reds dengan skor gol akhir 4-0.

Empat gol kemenangan Monterrey dicetak pada menit ke-30 lewat tendangan Nelson Deossa, dan dua gol oleh German Berterame pada menit ke-34 dan 90+7, dan gol Jesus Manuel Corona pada menit ke-39.

Pada babak pertama Monterrey mencetak tiga gol, dan satu gol di menit injury time, dengan kemenangan ini Monterrey mengantongi 5 poin, dan menjadi runner up grup lolos ke babak 16 besar. 

Adapun Inter melawan River Plate berakhir dimenangkan oleh Inter dengan skor gol 2-0.

Duel Inter River Plate ini cuku sengit, babak pertama hingga turun minum ditdak ada satu gol pun yang terjadi.

Usaia istirahat, kedua tim Inter versus River Plate, juga sama-sama ngotot saling adu serang, kendati akhirnya Inter berhasil memecahkan kebuntuan pada menit ke-72 lewat tendangan Francesco Pio Espositi.

Sedangkan gol kedua mengukuhkan kemenangan Inter terjadi menit injury time yaitu menit ke-90+3 lewat tendangan Alessandro Bastoni.

Inter lolos ke babak 16 besar dengan mengumpulkan 7 poin.

Inilah klasemen Grup E FIFA Club world Cup 2025.

1. Inter     : 7 poin

2. Monterrey     : 5 poin

3. River Plate     : 4 poin

4. Urawa Reds    : 0 poin

(sjs-267)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...