Langsung ke konten utama

FIFA CLUB WORLD CUP 2025: Grup A dan B Tuntas, PSG dan Botafogo Lolos Dramatis dari Grup B




MENJUAL HARAPAN - Pertandngan sepak bola bergengsi FIFA Club World Cup 2025 putaran ketiga untuk Grup A dan B telah usai menyelesaikan seluruh pertandingan,

Grup A telah lebih dahulu menyelesaikan seluruh pertandingannya dengan hasil yang cukup ketat. Namun karena setiap grup diambil dua untuk lolos ke babak 16 besar, maka di grup ini tim yang memastikan tempat di babak 16 besar dan tentu saja siap menghadapi lawan pada babak 16 besar dari grup lain berdasarkan skema undian lanjutan. 

Detail klasemen akhir Grup A memperlihatkan performa solid dari klub-klub unggulan, dan tidak sedikit kejutan yang terjadi selama fase ini. Dari Grup A ini yang melenggang ke babak 16 besar adalah Palmelras dan Inter Miami.

Grup B juga menyuguhkan drama ketat hingga laga terakhir.  Paris Saint-Germain (PSG),  dan Botafogo, akhirnya berhasil mengunci tiket ke babak 16 besar setelah sama-sama mengoleksi 6 poin dari tiga pertandingan. Uniknya, Atletico Madrid juga mengoleksi jumlah poin yang sama, akan tetapi tersingkir akibat selisih gol yang lebih buruk dibanding dua pesaingnya.

PSG memimpin Grup B berkat selisih gol +5 (6 gol memasukkan, 1 kebobolan), unggul atas Botafogo yang hanya mencetak 3 gol dan kebobolan 2 (selisih gol +1). Sementara Atletico Madrid, harus gigit jari karena meskipun menang dua kali, kekalahan telak 0-4 dari PSG membuat mereka mencatat selisih gol -1. Ini menegaskan betapa pentingnya efisiensi dan margin kemenangan dalam format grup yang kompetitif.

Di sisi lain, Seattle Sounders  menjadi satu-satunya tim di Grup B yang gagal meraih satu poin pun. Tiga kekalahan beruntun dan selisih gol -5 menjadi catatan pahit wakil Amerika Serikat tersebut. Tim asuhan Brian Schmetzer itu harus mengakui ketangguhan lawan-lawannya yang lebih berpengalaman di pentas internasional.

Dengan selesainya pertandingan di dua grup awal, tensi kompetisi semakin meningkat. Banyak pengamat menilai bahwa duel antarklub top Eropa dan Amerika Selatan yang terjadi sejak fase grup membuat turnamen ini lebih menarik dibanding edisi-edisi sebelumnya. 

Format grup seperti ini berhasil menyajikan persaingan hingga detik terakhir dan memaksa setiap klub bermain optimal sejak laga pembuka.

FIFA sendiri mengonfirmasi bahwa babak gugur akan menggunakan sistem bracket berdasarkan posisi akhir klasemen grup. Juara grup akan menghadapi runner-up dari grup lain yang telah ditentukan dalam jadwal resmi. 

Dengan berakhirnya Grup A dan B, sorotan kini tertuju pada Grup C hingga H yang akan menyelesaikan pertandingan dalam beberapa hari ke depan.

Turnamen FIFA Club World Cup 2025 memberi warna baru dalam kalender sepak bola internasional, dengan Amerika Serikat menjadi panggung bagi pertarungan klub-klub elite dari lima benua. Semua mata kini tertuju pada babak gugur, di mana hanya ada satu jalan: menang atau pulang. (S-267)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...