Langsung ke konten utama

FIFA Club World Cup 2025: Flamengo Tumbang Lawan Bayern, PSG Gunduli Inter Miami



MENJUAL HARAPAN - Bayern Muenchen taklukkan Flamengo 4-2 pada laga babab 16 besar Piala Dunia Antarklub 2025 atau FIFA Club World Cup 2025.

Duel kedua kesebelasan ini berlangsung digelar di Hard Rock Stadium, Miami, Senin dini hari WIB (30/6/2025).

Begitu kickoff babak pertama, Bayern Muenchen langsung tancap gas menyerang dan terus menekan pertahanan Flamengo, sehingga di menit ke-6 terjadi gol bunuh diri pemain Flamengo.

Gol pembuka Bayern Muenchen sebagai buah dari serangannya itu, kemudian di menit ke-9 Harry Kane nambah gol untuk Bayern.

Bayern Muenchen 2-0 Flamengo, namun Flamengo di menit ke-33 membalasnya, menggedor gawang kiper Bayern yang ditusukkan oleh  Gerson Santos da Silva, dan kedudukan menjadi sama 2-1.

Pertanidngan makin sengit antar kedua tim saling jual beli serangan, dan Bayern Muenchen kembali membbol gawang kiper Flamengo pada menit ke-41 yang dicetak oleh Leon Goretzka, sehingga Bayern Muenchen nambah gol menjadi 3-1.

Kedudukan gol Flamengo 1-3 Bayern Muenchen ini tidak alami perubahan hingga turun minun.

Usai turun minum, kedua tim ngotot untuk memenangkan pertandingan di babak 16 besar ini, utamanya Flamengo yang sudah tertinggal berusaha bangkit, namun serangan demi serangan pemain Flamengo terus dihadang dan tidak mampu membuahkan gol.

Sementara Bayern Muenchen berhasil mencetak gol di babak kedua menit ke-73 lewat tendangan Harry Kane.

Bayern Muenchen 4-1 Flamengo, pertandingan makin seru dengan taktik yang diperagakan oleh kedua tim. Namun pertnaidngan hingga wasit meniup peluit panjang berakhirnya pertandingan kedudukan tidak berubah. Bayern Muenchen berhasil melaju ke pertandingan babak berikutnya.

Pada pertandingan hari sebelumnya, Minggu (29/6/2025) PSG versus Inter Miami yang berlangsung di Mercedes-Benz Stadium, Atalanta.

Paris Saint-Germain (PSG) tidak memberi ampun pada lawannya Inter Miami dengan menggundulinya hingga 4-0.

Empat gol PSG dicetak berturut-turut menit ke-6 dan 39 oleh Joao Neves, menit ke-44 gol bunuh diri pemain Inter, dan menit ke-45+3 Achraf Hakimi menggenapkan kemenangan PSG.

Hasil ini, membawa PSG melaju ke babak berikutnya. ** 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...