Langsung ke konten utama

MU Taklukkan Athletic Bilbao di Semifinal Liga Eropa


MENJUAL HARAPAN - Manchester United (MU) berhasil melaju ke final Liga Eropa atau UEFA League musim 2024-2025, setelah leg kedua menghancur leburkan lawannya Athletic Bilbao 4-1.

Kendati pada babak pertama tuan rumah Manchester United tertinggal lebih dulu 0-1 dari Mikel Jauregizar.

Tertinggal 0-1 hingga babak pertama turun minum, pada babak kedua MU ngamuk membombardir pertahanan Athletic Bilbao, namun serangan masih belum menghasilakn gol hingga menti ke-71 an.

Bermain di Stadion Old Trafford pada Jumat dini hari WIB (9/5/2025), Manchester United terus meningkatkan serangannya ke pertahanan Bilbao, dan menit ke-72 baru berhasil membuahkan gol lewat Mason Mount.

Kedudukan berubah menjadi 1-1, pertandingan makin sengit antar kedua kesebelasan di berbagai lini.

MU, akhrinya mampu membalikkan keadaan pada menit ke79 lewat tusukan Casemiro ke gawang kiper Bilbao, dan kedudukan sementara MU unggul 2-1.

Walau sudah unggul, tuan rumah Manchester United tidak mengendorkan aksi-aksi serangannya, malah makin menjadi-jadi menekan pertahanan lawannya.

Enam menit kemudian ('85) usai gol kedua, gol ketiga yang dicetak Rasmus Hajlund menghentakkan para pemain Bilbao, dan MU kembali menambah golnya menjadi 3-1.

Athletic Bilbao tertinggal 2 gol dari MU, berusaha memperkecil ketertinggalannya, akan tetapi serangan demi serangan ke pertahanan MU dipatahkan.

Sedangkan, tuan rumah MU kembali lagi di menit ke-90+1 membobol gawang kiper Bilbao. Gol keempat MU ini dicetak Mason Mount.

Mason Mount menggenapkan kemenangan Manchester United di leg kedua Liga Eropa ini, dan MU melaju ke final. (S-267)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...