Langsung ke konten utama

Menjaga Wajah Beranda Negara: Status Lanud Ngurah Rai Sudah 14 Tahun 'Mangkrak' di Tipe B, DPR Desak Transformasi ke Tipe A

MENJUAL HARAPAN — Di tengah dinamisnya konstelasi geopolitik dan status Bali sebagai episentrum pertemuan internasional, infrastruktur pertahanan di Pulau Dewata dinilai sudah usang dan tertinggal. Sorotan tajam datang dari Komisi I DPR RI yang mendesak perombakan total terhadap status Pangkalan Udara (Lanud) I Gusti Ngurah Rai, Badung, Provinsi Bali, agar segera dinaikkan standarnya dari Tipe B menjadi Tipe A.

Langkah taktis ini dinilai sudah sangat mendesak, bukan hanya demi memperkuat perimeter pertahanan udara nasional, melainkan juga untuk menjaga marwah dan citra diplomasi Indonesia di panggung internasional.

Dilema Strategis: Beranda Internasional yang Minim Dukungan Anggaran

Anggota Komisi I DPR RI, Nurul Arifin, mengungkapkan keheranannya atas status Lanud Ngurah Rai yang tidak mengalami perubahan sejak tahun 2012. Mandeknya peningkatan status selama 14 tahun ini dinilai kontradiktif dengan beban kerja dan nilai strategis pangkalan tersebut yang saban tahun melayani penerbangan tamu-tamu penting kenegaraan (VVIP).

"Tadi kita melihat bahwa (Lanud) I Gusti Ngurah Rai ini sebetulnya sangat memiliki peranan penting. Karena berada di posisi yang strategis, kemudian juga beririsan langsung dengan bandara internasional dan komersial. Kami menginginkan Lanud ini naik peringkat menjadi standar A, tidak B lagi. Ini krusial karena berkaitan erat dengan sistem anggaran pertahanan kita," tegas Nurul Arifin di sela Kunjungan Kerja Spesifik Komisi I DPR RI di Badung, Bali, Jumat (26/06/2026).

Secara sosiopolitik, status Tipe B membatasi ruang gerak lanud, baik dari segi alokasi anggaran pertahanan, kuantitas personel, hingga kelengkapan alutsista pendukung. Padahal, Lanud Ngurah Rai dituntut untuk selalu siap sedia dalam mengamankan lalu lintas udara komersial sekaligus menyambut kepala negara asing dalam koridor hubungan diplomasi.

Kolaborasi Teknologi, Lingkungan, dan Diplomasi

Lebih dari sekadar urusan militerisme, legislator dari Fraksi Partai Golkar ini mengingatkan bahwa penguatan pangkalan udara modern harus adaptif terhadap isu-isu sosial dan lingkungan hidup. Penggunaan teknologi pertahanan mutakhir mutlak diperlukan, namun harus berjalan selaras dengan kesiapan masyarakat lokal serta kelestarian lingkungan sekitar Bali.

Nurul menekankan perlunya sinergitas lintas sektoral agar Lanud Ngurah Rai mampu merepresentasikan Indonesia sebagai negara yang aman dan berwibawa.

"Harus ada kolaborasi untuk menjaga Lanud I Gusti Ngurah Rai ini. Pangkalan ini harus tetap merepresentasikan diri sebagai bandara internasional yang tidak hanya melayani aspek komersil, tetapi juga siap menyambut tamu-tamu kenegaraan dalam posisi hubungan diplomasi dengan negara-negara lain," imbuh wakil rakyat asal Daerah Pemilihan Jawa Barat I tersebut.

Mengawal Agenda ke Meja Menteri Pertahanan

DPR memastikan usulan ini tidak akan menguap begitu saja sebagai catatan kunjungan kerja. Sebagai bentuk fungsi pengawasan parlemen terhadap infrastruktur pertahanan negara, komitmen peningkatan status ini akan dikawal ketat.

Nurul Arifin menegaskan akan membawa transisi status Lanud I Gusti Ngurah Rai dari Tipe B ke Tipe A sebagai salah satu skala prioritas pribadinya yang akan didebatkan dalam rapat kerja (Raker) mendatang bersama Menteri Pertahanan. Publik kini menunggu sejauh mana komitmen pemerintah dalam merespons urgensi pertahanan di beranda depan RI ini. (S*_267)

Sumber Berita: dpr.go.id - "Nurul Arifin: Status Lanud Ngurah Rai Harus Naik Standar ke Tipe A" (diakses, 29/6/2026)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Final Liga Champions UEFA: PSG Taklukkan Arsenal Lewat Drama Adu Penalti

MENJUAL HARAPAN – Arena Puskas, Budapest , Minggu (31/5/2026) dini hari WIB, menjadi saksi bisu pecahnya kebuntuan panjang Paris Saint-Germain (PSG) di kancah Eropa. Dalam laga final Liga Champions 2025-2026 yang menguras emosi, raksasa Prancis tersebut akhirnya sukses mengangkat trofi "Si Kuping Besar" setelah menundukkan perlawanan sengit Arsenal lewat drama adu penalti yang menegangkan. Bagi Arsenal, malam ini adalah mimpi yang tertunda. The Gunners sejatinya memulai laga dengan sempurna. Belum genap lima menit peluit dibunyikan, pendukung Arsenal sudah bergemuruh. Kai Havertz , dengan ketenangan kelas dunia, berhasil membungkam pertahanan PSG dan membuka keunggulan. Gol cepat tersebut seolah menjadi sinyal bahwa trofi Liga Champions akan segera mendarat di London Utara. Hingga turun minum, disiplin taktik Arsenal mampu meredam setiap upaya serangan dari lini depan PSG. Namun, sepak bola adalah permainan dua babak, dan PSG tidak berniat pulang dengan tangan hampa. Memas...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...