Langsung ke konten utama

Korban Jiwa Latsarmil Kemhan Tembus 5 Orang: DPR Ingatkan Sipil Bukan Tentara, Desak Perbaikan Total

MENJUAL HARAPAN — Alarm keras bagi Kementerian Pertahanan (Kemhan) kembali berbunyi dari Senayan. Jumlah korban meninggal dunia dalam Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) 2026 kini resmi menyentuh angka lima orang.

Kenyataan pahit ini memicu kecaman laten dari legislatif yang memperingatkan pemerintah agar tidak meremehkan hilangnya nyawa anak bangsa.

Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi PKB, Oleh Soleh, dengan nada tinggi mendesak Kemhan untuk segera menghentikan total pelaksanaan Latsarmil bagi calon manajer Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih dan Koperasi Kampung Nelayan tersebut.

Kronologi Gugurnya Putra-Putri Terbaik Bangsa

Kematian demi kematian yang terjadi dalam rentang waktu yang sangat berdekatan mengindikasikan adanya "pembiaran" atas beban latihan yang melampaui batas kemampuan sipil.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Kementerian Pertahanan, berikut adalah daftar lima peserta yang gugur dalam kurun waktu kurang dari dua pekan:

  • Yonanda Muhammad Taufiq — Gugur pada hari pertama latihan, 17 Juni 2026.
  • Anisa Muyassaroh — Gugur pada hari kedua latihan, 18 Juni 2026.
  • Novia Rahmadhani Sihotang — Gugur pada 22 Juni 2026.
  • Muhammad Rifki Renaldi Gunawan — Gugur pada 25 Juni 2026.
  • Nola Dya Sari — Korban kelima dan terbaru, gugur saat mengikuti latihan di Satuan Pendidikan Dodik Bela Negara Kalimantan.

"Peristiwa meninggalnya lima orang calon manajer Kopdes Merah Putih ini merupakan masalah yang sangat serius. Jangan anggap enteng nyawa manusia yang meninggal. Karena itu saya mendesak Kementerian Pertahanan menghentikan sementara pelaksanaan Latsarmil dan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program tersebut," tegas Oleh Soleh dalam keterangan tertulisnya, Minggu (28/6/2026).

Menggugat Pendekatan Militeristis Terhadap Warga Sipil

Oleh Soleh, legislator asal Daerah Pemilihan Jawa Barat XI, mengingatkan esensi dasar dari program SPPI. Para peserta yang direkrut adalah para sarjana sipil yang dipersiapkan untuk menggerakkan roda ekonomi desa melalui manajemen koperasi, bukan prajurit yang disiapkan untuk maju ke medan perang.

Oleh karena itu, pendekatan semi-militer dengan memaksakan standar latihan fisik layaknya tentara reguler dinilai sebagai salah kaprah yang fatal.

"Harus ada evaluasi dan perbaikan total terhadap pola pembinaan serta pelatihan yang diberikan. Mereka adalah masyarakat sipil sehingga pelatihan fisik yang dilakukan tidak boleh terlalu berat. Mereka bukan tentara dan tentu kemampuan fisiknya tidak sama dengan prajurit yang telah menjalani pendidikan kemiliteran," kritik Politisi PKB tersebut.

Tuntutan Transparansi dan Prioritas Keselamatan

DPR menegaskan bahwa niat mulia membangun ekonomi desa melalui Kopdes Merah Putih sama sekali tidak boleh mengorbankan keselamatan manusia. Kemhan dituntut tidak hanya menghentikan sementara program ini, tetapi juga membuka investigasi yang transparan terkait penyebab kematian massal yang beruntun ini.

Pemerintah diingatkan kembali bahwa para korban merupakan pemuda-pemudi idealis yang mendaftar demi kontribusi pembangunan, sehingga memperlakukan kematian mereka sebagai "risiko latihan biasa" adalah bentuk pengabaian moral yang berat. Kemhan harus melakukan perbaikan total pada sistem kepelatihan dan menjamin bahwa tragedi memilukan ini adalah yang terakhir kalinya. (*Sjs_267)

 

Sumber Berita: dpr.go.id - "Lima Nyawa Meninggal Jangan Dianggap Enteng, Evaluasi Latsarmil Calon Manajer Kopdes" (diakses, 29/6/2026)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Final Liga Champions UEFA: PSG Taklukkan Arsenal Lewat Drama Adu Penalti

MENJUAL HARAPAN – Arena Puskas, Budapest , Minggu (31/5/2026) dini hari WIB, menjadi saksi bisu pecahnya kebuntuan panjang Paris Saint-Germain (PSG) di kancah Eropa. Dalam laga final Liga Champions 2025-2026 yang menguras emosi, raksasa Prancis tersebut akhirnya sukses mengangkat trofi "Si Kuping Besar" setelah menundukkan perlawanan sengit Arsenal lewat drama adu penalti yang menegangkan. Bagi Arsenal, malam ini adalah mimpi yang tertunda. The Gunners sejatinya memulai laga dengan sempurna. Belum genap lima menit peluit dibunyikan, pendukung Arsenal sudah bergemuruh. Kai Havertz , dengan ketenangan kelas dunia, berhasil membungkam pertahanan PSG dan membuka keunggulan. Gol cepat tersebut seolah menjadi sinyal bahwa trofi Liga Champions akan segera mendarat di London Utara. Hingga turun minum, disiplin taktik Arsenal mampu meredam setiap upaya serangan dari lini depan PSG. Namun, sepak bola adalah permainan dua babak, dan PSG tidak berniat pulang dengan tangan hampa. Memas...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...