Langsung ke konten utama

Argentina Gunduli Zambia di Laga Persahabatan

MENJUAL HARAPAN - Timnas Argentina gunduli timnas Zambia dengan skor gol 5-0. Kemenangan 5-0 atas Zambia ini bukan sekadar soal skor, melainkan soal pernyataan kesiapan menjelang pertahanan gelar di Piala Dunia 2026.

Timnas Argentina dalam laga persahabatan Internasional menjamu Zimbia pada Rabu pagi WIB (1/4/2026), dan berlangsung diselenggarakan di Stadion El Monumental, Buenos Aires, Argentina.

Argentina menunjukkan kelasnya sebagai juara bertahan dunia dengan mendominasi penguasaan bola hingga 76%. Tim asuhan Lionel Scaloni tampil dengan intensitas tinggi sejak peluit pertama, tidak memberikan ruang bagi Zambia untuk mengembangkan permainan transisi mereka yang biasanya berbahaya.

Baca juga: Irak Lolos ke Piala Dunia 2026 Usai Kalahkan Bolivia

Efektivitas Lini Serang

Julián Álvarez (4'): Gol cepat ini adalah kunci. Pergerakan tanpa bola Álvarez menunjukkan mengapa ia tetap menjadi pilihan utama. Ia mampu memanfaatkan celah di lini belakang Zambia dengan sangat klinis.

Sihir Lionel Messi (43'): Menjelang jeda, Messi kembali membuktikan bahwa usia hanyalah angka. Golnya yang ke-116 untuk timnas lahir dari kombinasi apik dengan Alexis Mac Allister. Ini adalah momen yang meruntuhkan mental pemain Zambia tepat sebelum masuk ruang ganti.

Baca juga: Italia Kalah Dramatis Lawan Bosnia-Herzegovina, dan Kembali Absen di Piala Dunia

Variasi Skor di Babak Kedua

Masuknya tenaga baru di babak kedua membuat intensitas Argentina tetap terjaga:

Nicolas Otamendi (50'): Melalui titik putih, sang veteran menunjukkan ketenangan luar biasa.

Dominic Chanda (68' - GBD): Tekanan bertubi-tubi dari sisi sayap memaksa kesalahan fatal di lini pertahanan Zambia.

Valentín Barco (90+4'): Gol penutup dari talenta muda ini adalah sinyal positif bagi regenerasi tim. Barco menunjukkan ketenangan penyelesaian akhir layaknya pemain senior.

Baca juga: Inggiris Ditaklukkan Jepang Pada Laga Bertajuk FIFA Matchday

Zambia, bukan lawan sepadan secara kualitas individu, namun secara taktis, Argentina telah mematangkan strategi "bola pendek cepat" yang menjadi identitas mereka.

Dengan performa seperti ini, La Albiceleste mengirimkan pesan peringatan kepada rival-rival mereka di Piala Dunia nanti. (**_267)





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...