Langsung ke konten utama

Liga Champions UEFA 2025-2026: Dortmund Gunduli Villarreal, Marselle Vs Newcastle 2-1

MENJUAL HARAPAN BORUSSIA Dortmund, menang telak 4-0 dari lawannya Villarrel pada pekan kelima Liga Champions UEFA musim 2025-2026. Sementara di pekan yang sama Marselle versus Newcastle berakhir dengan skor gol 2-1.

Bertanding di Signal Iduna Park, Rabu dini hari WIB (26/11/2025), tuan rumah Dortmund tidak mudah berhadapan dengan Villarreal, hal ini dibuktikan perlawanan Villarreal hingga menit-menit akhir babak pertama masih belum terjadi gol.

Gol pertama Borussia Dortmund baru lahir pada menit ke-45+2 yang dicetak oleh Serhou Guirassy.

Usai turun minum, babak kedua dimulai dan pada menit ke-54, Serhou Guirassy kembali mencetak gol kedua ke gawang kiper Villarrel, dan kedudukan menjadi 2-0.

Tampaknya, Villarreal yang terkaget-kaget kebobolan kembali, dan sedikit banyak terkena mental shock, justru menguntungkan para pemain Dortmund, sehingga empat menit dari gol kedua (58’), pemain Dortmund, Karim Adeyemi menggetarkan gawang kiper Villarreal, sehingga Dortmund kembali unggul menjadi 3-0.

Tampak, tiga gol telah direngkuh Dortmund, namun semangat membombardir pertahanan Villarreal tidak kendor, justru makin menjadi-jadi, sehingga para pemain Villarreal makin tertekan yang tiada henti, walau sekali-kali pemain Villarreal menghadangnya.

Waktu normal pertandngan, Villarreal belum juga mampu memperkecil ketertnggal gol, justru di menit-menit akhir gawang kiper Villarreal kembali bergetar akibat tendangan pemain Dortmund, Daniel Svensson di menit ke-90+5.

Dortmund, unggul 4-0 dari Villarreal tanpa cacat, alias tidak terbalas satu gol pun, dan hasil ini membawanya ke posisi ke-4 dengan koleksi 10 poin, sementara Villarreal berada pada urutan ke-34 dengan 1 poin klasemen sementara Liga Champions UEFA 2025-2026 pekan kelima dari delapan kali pertandingan.

Sedangkan pada pertandingan lainnya, Marseilla berhadapan dengan Newcastle yang berlangsung di Velodrome, Rabu dini hari WIB (26/11/2025) berakhir yang dimenangkan oleh Marseilla dengan skor gol 2-1.

Marseilla, awal-awal babak pertama kebobolan lebih dulu di menit ke-6. Gol Newcastle pada menit ke-6 dicetak oleh Harvey Barnes.

Tertinggal 0-1 dari lawannya Newcastle, Marseilla berusaha membenahi rancang taktik dalam melakukan serangan demi serangannya. Namun, Newcastle tampak berusaha melakukan hadangan yang signifikan dari menit ke menit di babak pertama.

Babak pertama menuju turun minum, kedudukan masih saja belum berubah, bahkan hingga turun minum.

Usai turun minum, Marseille bangkit dan langsung tancap gas, sheingga awal menit babak kedua berhasil menggetarkan gawang kiper Newcastle, tepatnya menit ke-46 Pierre-Emerick Aubarmeyang berhasil menjebloskan si kulit bundar ke gawang kiper Newcastle, dan kedudukan sama menjadi 1-1.

Selanjutnya, empat menit kemudian, pemain yang sama Pierre-Emerick Aubarmeyang, kembali mencetak gol ke gawang kiper Newcastle, dan kedudukan menjadi 2-1.

Usai unggul sementara, Marseille terus berusaha menambah golnya, namun para pemain Newcastle juga tidak diam diri, justru melakukan perlawanan yang makin seru dengan taktik adu serang ke pertahanan lawannya, walau hingga pertandingan berakhir tidak alami perubahan gol lagi.

Hasil ini, Marseille berada dalam posisi ke-19 dengan koleksi 6 poin, sementara Newcastle berada di urutan ke-8 dengan 9 poin klasemen sementara putaran kelima Liga Champions UEFA.

Pada pertandingan-pertandingan lainnya di antaranya Boda/Glimt versus Juventus dengan skor gol 2-3, Chelsea petik kemenangan 3-0 dari Barcelona, dan Napoli versus Qarabag dengan skor gol 2-0, serta Man City derita kekalahan 0-2 dari Leverkusen. (S_267)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...