Langsung ke konten utama

Anggota MPR/DPR RI, Sulaeman Hamzah Gaungkan Alam dan Masa Depan Bangsa

 

MENJUAL HARAPAN   Sosialisasi Empat Konsensus Kebangsaan kembali digelar di Papua Selatan. Kali ini, Anggota MPR/DPR RI dari Dapil Papua Selatan, H. Sulaeman L Hamzah, hadir langsung di Kp. Kaliki, Distrik Kurik, Kabupaten Merauke, pada 10 Februari 2026. Acara yang dihadiri sekitar 150 peserta ini menjadi ruang dialog antara wakil rakyat dengan tokoh adat, tokoh masyarakat, relawan, dan warga setempat.

Empat konsensus kebangsaan—Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika—dijadikan landasan utama dalam kegiatan ini. Sulaeman menekankan bahwa sosialisasi bukan sekadar formalitas, melainkan wadah untuk menyerap aspirasi masyarakat sekaligus memperkuat nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari.

Majelis Permusayawaratan Rakyat (MPR) memiliki tugas memasyarakatkan Pancasila dan UUD 1945, mengkaji sistem ketatanegaraan, serta menyerap aspirasi rakyat. Sosialisasi ini menjadi salah satu cara agar masyarakat merasa dekat dengan wakilnya, dan dapat menyampaikan pandangan terkait pelaksanaan nilai-nilai luhur bangsa.

Baca juga: MPR RI Sosialisasikan Empat Pilar Kebangsaan di Kampung Urumb Merauke

Peserta yang hadir tidak hanya mendengarkan paparan, tetapi juga aktif bertanya. Salah satu isu yang mengemuka adalah tentang pengelolaan lingkungan hidup. Warga menyoroti bagaimana nilai-nilai Pancasila dapat diterapkan dalam menjaga alam, terutama di tengah maraknya bencana alam akibat ulah manusia, seperti banjir bandang dan longsor di Aceh dan Sumatera.

Menanggapi hal itu, Sulaeman menekankan bahwa Pancasila adalah pedoman hidup yang relevan dalam setiap aspek, termasuk lingkungan. Ia mengutip Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, yang menegaskan pentingnya pembangunan berkelanjutan dengan asas tanggung jawab negara, keberlanjutan, dan manfaat.

Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, misalnya, mengajarkan manusia untuk menjaga ciptaan Tuhan, termasuk alam dan lingkungan. Sila Kemanusiaan menuntut perlakuan adil terhadap sesama dan terhadap alam. Sila Persatuan mendorong masyarakat untuk menghargai kearifan lokal dalam menjaga kelestarian lingkungan. Sila Kerakyatan menekankan musyawarah dalam pengambilan keputusan terkait pengelolaan sumber daya. Sementara Sila Keadilan Sosial menuntut agar pemanfaatan alam dilakukan demi kesejahteraan seluruh rakyat, bukan segelintir pihak.

Baca juga: H. Sulaeman L Hamzah: Pancasila Harus Hadir dalam Kebijakan Pangan

Dalam paparannya, Sulaeman juga menyinggung praktik-praktik yang merusak lingkungan, seperti illegal logging dan pencemaran oleh perusahaan. Menurutnya, tindakan semacam itu bukan hanya merugikan ekosistem, melainkan juga menimbulkan keresahan sosial dan konflik di masyarakat.

Acara ini tidak hanya menjadi forum sosialisasi, akan tetapi, momentum refleksi. Warga diajak untuk melihat bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari pengamalan Pancasila. Kesadaran kolektif diperlukan agar pembangunan tidak mengorbankan generasi mendatang.

Di akhir kegiatan, Sulaeman menyampaikan bahwa setiap orang wajib menjaga kelestarian lingkungan hidup. Ia menekankan bahwa pengelolaan lingkungan harus selalu dikaitkan dengan nilai-nilai Pancasila, karena Pancasila adalah norma yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sebagai penutup, anggota DPR RI Fraksi Nasdem ini, memberikan saran agar masyarakat semakin sadar akan pentingnya pemeliharaan lingkungan. “Lingkungan yang baik dan sehat adalah hak semua orang. Mari kita aplikasikan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam menjaga alam yang menjadi sumber kehidupan kita,” ujarnya.

Baca juga: Anggota MPR H. Sulaeman L. Hamzah Ajak Pelajar Papua Pertahankan Semangat Gotong Royong di Era Digital

Dengan suasana penuh keakraban, kegiatan sosialisasi ini berhasil mempertemukan aspirasi masyarakat dengan komitmen wakil rakyat. Di Papua Selatan, pesan kebangsaan berpadu dengan pesan ekologis: menjaga persatuan bangsa berarti juga menjaga bumi tempat bangsa ini berpijak. (Sjs*_267)




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...