Langsung ke konten utama

MPR RI Sosialisasikan Empat Pilar Kebangsaan di Kampung Urumb Merauke

Kegiatan Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan yang diselenggarakan di wilayah kampung local di Kp. Urumb Distrik Semangga Kab. Merauke – Papua Selatan (9/12/2025)


MENJUAL HARAPAN - Upaya penguatan nilai-nilai kebangsaan terus dilakukan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI hingga ke wilayah kampung di Papua Selatan. Melalui kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan, MPR RI berupaya memastikan nilai-nilai Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika tetap menjadi pedoman hidup masyarakat dalam menghadapi dinamika sosial yang kian kompleks.

Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan ke-10 tersebut digelar pada Selasa, 9 Desember 2025, di Kampung Urumb, Distrik Semangga, Kabupaten Merauke. Kegiatan ini menghadirkan Anggota MPR RI dari Daerah Pemilihan Papua, H. Sulaeman L Hamzah, sebagai narasumber utama dalam dialog kebangsaan bersama masyarakat.

H. Sulaeman L. Hamzah, anggota MPR RI saat memaparkan materi   

Sekitar 150 peserta menghadiri kegiatan tersebut. Peserta terdiri dari tokoh adat, tokoh masyarakat, serta warga Kampung Urumb dan sekitarnya. Sejumlah perwakilan media lokal turut meliput jalannya kegiatan yang berlangsung dalam suasana terbuka dan partisipatif.

Dalam pemaparannya, H. Sulaeman L Hamzah menegaskan bahwa sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan merupakan amanat undang-undang yang melekat pada tugas konstitusional MPR RI. Menurutnya, pemahaman terhadap ideologi negara menjadi fondasi utama dalam menjaga keutuhan bangsa, terutama di tengah arus globalisasi, perkembangan teknologi informasi, serta tantangan sosial yang semakin beragam.

Ia menekankan bahwa Pancasila memiliki peran strategis sebagai perekat bangsa yang majemuk. Indonesia, kata dia, adalah negara dengan keberagaman suku, adat, budaya, bahasa, dan agama yang sangat besar. Keberagaman tersebut merupakan kekayaan nasional yang harus dirawat dan dikelola secara bijaksana agar tidak berkembang menjadi sumber konflik sosial.

“Pancasila hadir sebagai ideologi pemersatu. Nilai-nilainya mengajarkan toleransi, saling menghormati, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” ujar H. Sulaeman di hadapan peserta sosialisasi.

Dalam sesi dialog, sejumlah peserta menyampaikan pandangan dan pertanyaan terkait potensi konflik yang dapat muncul akibat perbedaan adat dan budaya. Mereka menyoroti pentingnya peran Pancasila dalam meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan bangsa, agar kemajemukan justru menjadi modal sosial bagi kemajuan Indonesia.

Menanggapi hal tersebut, H. Sulaeman menjelaskan bahwa kelima sila dalam Pancasila saling berkaitan dan membentuk satu kesatuan nilai. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, menurutnya, mengajarkan sikap toleransi antarumat beragama. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab menegaskan kesetaraan derajat setiap warga negara tanpa membedakan latar belakang suku, ras, maupun budaya.

Ia juga menyoroti sila Persatuan Indonesia yang menjadi landasan untuk mengatasi kepentingan sempit kelompok atau golongan. Dalam konteks kehidupan berbangsa, kepentingan nasional harus ditempatkan di atas kepentingan individu atau kelompok tertentu demi menjaga keutuhan NKRI.

Selain itu, nilai demokrasi dan musyawarah sebagaimana tercantum dalam sila keempat Pancasila dinilai penting untuk menyelesaikan perbedaan pendapat secara damai. H. Sulaeman menegaskan bahwa dialog dan permufakatan harus menjadi jalan utama dalam menyelesaikan persoalan sosial, bukan kekerasan atau konflik terbuka.

Sila kelima Pancasila, lanjutnya, menekankan pentingnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Keadilan tersebut harus dirasakan dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam perlakuan yang setara di hadapan hukum serta dalam pemenuhan hak dan kewajiban sebagai warga negara.

Kegiatan sosialisasi ini diselenggarakan oleh Rumah Aspirasi H. Sulaeman L Hamzah bekerja sama dengan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai NasDem Kabupaten Merauke. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperluas jangkauan sosialisasi nilai-nilai kebangsaan hingga ke lapisan masyarakat paling bawah.

Foto bersama usai kegiatan sosialisasi 4 pilar konsensus kebangsaan

Sejumlah peserta menyambut positif kegiatan tersebut. Mereka menilai sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan penting untuk memperkuat kesadaran ideologis masyarakat, khususnya di wilayah kampung yang kerap menghadapi tantangan sosial dan budaya yang khas.

Melalui kegiatan ini, MPR RI menegaskan komitmennya untuk terus membumikan nilai-nilai Pancasila dan Empat Pilar Kebangsaan di seluruh wilayah Indonesia. Sosialisasi hingga tingkat kampung diharapkan dapat menjadi benteng ideologis dalam menjaga persatuan, memperkuat toleransi, serta meneguhkan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (hm_267)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prabowo Angkat 26 Anggota Wantimpres, Pratikno Jadi Ketua

Presiden Prabowo Subianto resmi menangkat 26 anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Republik Indonesia pada Jumat, 2 Oktober 2026 di Istana Negara, Jakarta. Foto: BPMI Setpres/Kris MENJUAL HARAPAN — Presiden Prabowo Subianto resmi mengangkat 26 anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Republik Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Jumat (2/10/2026). Dalam susunan baru tersebut, Pratikno ditetapkan sebagai Ketua merangkap anggota, Muhammad Hatta Rajasa sebagai Wakil Ketua merangkap anggota, dan Muhammad Qodari sebagai Sekretaris merangkap anggota. Pengangkatan tersebut didasarkan pada Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 107/P Tahun 2026 tentang Pengangkatan Keanggotaan Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia . Pelantikan 26 anggota Wantimpres itu menandai terbentuknya susunan baru lembaga yang memiliki posisi sebagai bagian dari mekanisme pemberian pertimbangan kepada Presiden dalam menjalankan pemerintahan. 26 Nama dalam Susunan Wantimpres Berdasarka...

Drama 8 Gol di Giuseppe Meazza, Inter Milan Comeback dan Libas Udinese 5-3

MENJUAL HARAPAN — Pertandingan spektakuler diwarnai hujan delapan gol tersaji pada giornata ke-4 Serie A 2026/2027 saat Inter Milan menjamu Udinese di Stadion Giuseppe Meazza, Selasa (15/9/2026) dini hari WIB. Sempat tertinggal dua gol lebih dulu, Nerazzurri berhasil bangkit dan mengunci kemenangan dramatis 5-3. Laga dimulai dengan kejutan dari tim tamu. Udinese tampil menggebrak sejak awal babak pertama dan membuat publik tuan rumah terhenyak lewat gol cepat James Abankwah pada menit ke-9. Tujuh menit berselang, giliran Jürgen Ekkelenkamp yang mengoyak jala Inter pada menit ke-16, mengubah skor menjadi 0-2 untuk keunggulan Udinese. Tersengat oleh dua gol kejutan tersebut, Inter Milan langsung merespons dengan menaikkan tempo permainan. Usaha keras anak-asuh tuan rumah akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-26 lewat aksi Carlos Augusto yang memperkecil kedudukan. Gelombang serangan Inter berlanjut hingga Nicolò Barella sukses menyamakan skor menjadi 2-2 di menit ke-35. Keduduka...

Anomali Tata Kelola dan Paradoks Kebijakan: Menagih Kehadiran Negara dalam Dialektika Hukum, Agraria, dan Pendidikan

Ringkasan Esai 1.       Pendahuluan: Membingkai perdebatan hukum, agraria, dan pendidikan dalam kerangka sosiologi politik dan tata kelola pemerintahan ( good governance ). 2.       Bedah Isu 1 (RUU Perampasan Aset): Mengkritik penyelewengan barang rampasan oleh oknum aparat dan menagih transparansi digital. 3.       Bedah Isu 2 (Uji Materiil KUHAP 2025): Menganalisis potensi hegemoni Polri atas PPNS serta risiko diskresi penggeledahan tanpa izin ( due process of law ). 4.       Bedah Isu 3 (Reforma Agraria): Menganalisis efektivitas kelembagaan LPRA langsung di bawah Presiden dalam meredistribusi tanah dan menyelesaikan konflik. 5.       Bedah Isu 4 (Dekolonisasi RUU Sisdiknas): Mengulas pemikiran Bonnie Triyana mengenai pentingnya menghapus bias kolonial terhadap penganut kepercayaan. 6.       Bedah Isu 5 (KIP Kuliah & Pagu Angg...