Langsung ke konten utama

Sulaeman L Hamzah Gaungkan Moderasi Beragama di Papua Selatan

 

MENNJUAL HARAPAN - Merauke kembali menjadi pusat perhatian ketika ratusan warga Kelurahan Rimba Jaya berkumpul untuk mengikuti Sosialisasi 4 Konsensus Kebangsaan yang digelar oleh Anggota MPR/DPR RI, H. Sulaeman L Hamzah, pada 10 Februari 2026. Acara ini menghadirkan tokoh adat, tokoh masyarakat, relawan, simpatisan, hingga media lokal, dengan semangat memperkuat nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Ditegaskan bahwa sosialisasi ini bukan sekadar rutinitas, melainkan wadah dialog antara wakil rakyat dan masyarakat. Tujuannya jelas: memperdalam pemahaman kebangsaan sekaligus menyerap aspirasi warga terkait pelaksanaan nilai-nilai luhur bangsa dalam kehidupan sehari-hari.

Peserta yang hadir tidak hanya mendengarkan, tetapi juga aktif bertanya. Salah satu isu yang mencuat adalah maraknya kasus intoleransi di Indonesia, seperti penolakan pembangunan Gereja GKI Yasmin di Bogor. Pertanyaan ini menjadi refleksi bahwa meski Papua dikenal harmonis dalam kerukunan antarumat beragama, tantangan intoleransi di tingkat nasional tetap perlu diwaspadai.

Baca juga: Anggota MPR/DPR RI, Sulaeman Hamzah Gaungkan Alam dan Masa Depan Bangsa

Menanggapi hal itu, Sulaeman menekankan pentingnya moderasi beragama sebagai jalan tengah. Moderasi, menurutnya, adalah komitmen kebangsaan yang menolak ekstremisme maupun liberalisme berlebihan. “Pancasila, khususnya sila pertama, mengajarkan kita untuk menghargai keberagaman keyakinan. Itu harus menjadi pegangan bersama,” ujarnya.

Baca juga: Anggota MPR H. Sulaeman L. Hamzah Ajak Pelajar Papua Pertahankan Semangat Gotong Royong di Era Digital

Anggota DPR/MPR RI ini, mencontohkan bagaimana perayaan hari besar agama di Indonesia sering menjadi ruang kebersamaan lintas iman. Natal, Idul Fitri, Waisak, hingga Nyepi bukan hanya dirayakan oleh umat masing-masing, tetapi juga menjadi momentum solidaritas antarwarga. “Inilah wajah nyata Bhinneka Tunggal Ika,” tegasnya.

Selain itu, pembangunan rumah ibadah yang adil bagi semua agama disebut sebagai indikator komitmen kebangsaan. Pemerintah, menurut Sulaeman, harus memastikan setiap umat memiliki kesempatan yang sama untuk beribadah tanpa diskriminasi. Perlindungan terhadap kelompok minoritas juga menjadi bagian penting dari moderasi beragama.

Tak kalah menarik, diskusi juga menyoroti peran media massa dan teknologi digital. Di era keterhubungan global, media seharusnya menjadi sarana penyebar pesan toleransi, bukan provokasi. “Media punya tanggung jawab besar dalam menjaga kerukunan,” kata Sulaeman, legislator DPR RI Fraksi Nasdem.

Nilai toleransi menjadi sorotan berikutnya. Toleransi bukan sekadar menghormati, melainkan juga membantu dan bekerja sama. Contoh nyata terlihat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, yang saling mendukung dalam perayaan agama masing-masing.

Indikator lain yang dibahas adalah anti kekerasan. Moderasi beragama, menurut Sulaeman, menolak segala bentuk kekerasan atas nama agama. Dialog, pendidikan inklusif, serta penegakan hukum yang tegas menjadi kunci untuk mencegah radikalisme. “Agama adalah jalan damai, bukan alasan untuk berkonflik,” tegasnya.

Dalam kegiatan tersebut, menekankan bahwa keberagaman budaya dan tradisi adalah kekayaan bangsa yang harus dijaga. Perayaan Waisak di Borobudur, Nyepi di Bali, hingga Cap Go Meh di Singkawang menjadi contoh bagaimana tradisi, dan agama bisa berpadu dalam harmoni. Pemerintah dan tokoh agama diharapkan terus menjadi mediator dalam menjaga keberagaman ini.

Acara yang dihadiri 150 peserta ini akhirnya ditutup dengan pesan kuat: moderasi beragama bukan sekadar konsep, melainkan praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dengan sikap terbuka, toleran, dan anti kekerasan, bangsa Indonesia diyakini mampu menghadapi tantangan intoleransi yang muncul di era modern.

Sulaeman L Hamzah menegaskan bahwa sosialisasi seperti ini akan terus digelar, agar masyarakat semakin memahami pentingnya empat konsensus kebangsaan. “Kerukunan di Papua adalah teladan. Mari kita jaga bersama, dan sebarkan ke seluruh Indonesia,” pungkasnya. (Sjs*_267)




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...