Langsung ke konten utama

Dari Harapan ke Kehampaan: PSG Singkirkan Liverpool di Depan Publik Sendiri

MENJUAL HARAPAN - Di bawah langit kelabu Anfield, Paris Saint-Germain (PSG) menulis babak baru dalam kisah Liga Champions mereka. Malam itu, Rabu dini hari WIB (15/4/2026), atmosfer stadion penuh dengan harapan publik tuan rumah, namun justru berakhir dengan kepedihan bagi Liverpool.

Sejak menit awal, The Reds tampil garang, menguasai bola, menekan, dan menciptakan peluang. Namun, di balik mistar gawang PSG berdiri sosok yang menjadi tembok tak tergoyahkan: Matvey Safonov. Kiper muda asal Rusia itu menjelma jadi pahlawan, menepis satu demi satu ancaman, termasuk sepakan berbahaya Alexander Isak dan Milos Kerkez.

Petaka Liverpool datang lebih cepat dari perkiraan. Hugo Ekitike, ujung tombak mereka, harus meninggalkan lapangan di menit ke-32 karena cedera engkel. Masuklah Mohamed Salah, sang ikon, tapi ritme permainan tuan rumah sudah terguncang.

Baca juga: Derita Manchester United di Kandang Sendiri

Drama semakin memanas di babak kedua. Harapan sempat menyala ketika wasit menunjuk titik putih setelah Alexis Mac Allister dijatuhkan di kotak terlarang. Namun, VAR memadamkan api semangat itu, menganulir keputusan penalti yang bisa mengubah jalannya laga.

Dan, di situlah PSG menemukan momen emas. Menit ke-72, Khvicha Kvaratskhelia mengirim umpan cerdas, Ousmane Dembele menari dengan bola, lalu melepaskan tembakan yang meluncur ke pojok gawang Giorgi Mamardashvili. Gol itu seakan meruntuhkan dinding kepercayaan diri Liverpool.

Tak berhenti di sana, Dembele kembali hadir di masa injury time. Kali ini lewat serangan balik kilat, ia menyambar umpan Bradley Barcola dan memastikan skor 2-0. Anfield terdiam, sementara PSG merayakan malam bersejarah mereka.

Dengan kemenangan ini, Les Parisiens melangkah ke semifinal, menunggu siapa yang akan muncul dari duel klasik Real Madrid kontra Bayern Muenchen. Bagi Liverpool, perjalanan Eropa musim ini berakhir dengan luka yang dalam, di kandang yang biasanya jadi panggung keajaiban. (Sjs*_267)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...