Langsung ke konten utama

Levante vs Alavés: Drama Dua Gol di Ujung Laga

 

MENJUAL HARAPAN - Pekan ke-26 La Liga musim 2025/2026 menghadirkan sebuah kisah dramatis di Ciutat de València. Pertandingan antara Levante dan Alavés, yang semula tampak akan berakhir hambar, justru berubah menjadi panggung penuh kejutan di menit-menit terakhir.

Babak Pertama: Ketegangan Tanpa Gol

Sejak kick off babak pertama, Levante tampil dengan determinasi khas tim yang sedang berjuang keluar dari zona degradasi. Namun, Alavés bukan lawan yang mudah ditaklukkan.

Pertarungan di lini tengah berlangsung keras, dengan kedua tim saling menutup ruang. Babak pertama berakhir tanpa gol, meninggalkan atmosfer tegang di tribun.

Babak Kedua: Kesabaran yang Berbuah Manis

Memasuki paruh kedua, Levante terus menekan. Publik tuan rumah mulai gelisah, waktu semakin menipis, dan skor masih kacamata. Namun, drama sejati sepak bola sering lahir dari detik-detik yang paling genting.

Carlos Espi, pemain muda yang sebelumnya jarang menjadi sorotan, menjelma pahlawan. Pada menit ke-88, ia memecah kebuntuan dengan sepakan terukur yang membuat stadion bergemuruh. Seakan belum cukup, Espi kembali mencatatkan namanya di papan skor pada menit ke-90+7, memastikan kemenangan 2-0 yang terasa seperti ledakan emosi bagi Levante.

Dampak Klasemen: Napas Panjang di Zona Merah

Tambahan tiga poin ini tidak serta-merta mengangkat Levante keluar dari posisi ke-19, namun koleksi 21 poin memberi secercah harapan dalam perjuangan mereka.

Alavés, yang kini tertahan di peringkat ke-14 dengan 27 poin, harus menelan kekecewaan karena gagal memanfaatkan momentum untuk menjauh dari papan bawah.

Sepak Bola dan Keajaiban Waktu

Kemenangan Levante bukan sekadar angka di klasemen. Ia adalah simbol bahwa dalam sepak bola, menit ke-88 dan ke-90+7 bisa mengubah segalanya: dari rasa putus asa menjadi euforia, dari keraguan menjadi keyakinan. Espi, dengan dua golnya, menulis babak baru dalam kisah perjuangan Levante musim ini.

Sepak bola, pada akhirnya, adalah tentang drama yang tak pernah bisa diprediksi. Dan malam itu, di Valencia, Levante membuktikan bahwa keajaiban selalu mungkin terjadi—bahkan di ujung waktu. (S_267)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...