Langsung ke konten utama

Pekan ke-26 Serie A: Roma Bersinar, Milan Tersandung


MENJUAL HARAPAN - Ada aroma kontras yang mewarnai pekan ke-26 Serie A musim 2025/2026. Di Stadio Olimpico, AS Roma tampil garang, sementara di San Siro, AC Milan justru tersungkur di hadapan publik sendiri.

Roma Menyalakan Lampu Panggung

Babak pertama antara Roma dan Cremonese berjalan datar, seolah kedua tim masih menimbang langkah. Namun begitu peluit babak kedua berbunyi, Roma berubah wajah: agresif, penuh determinasi, dan tak memberi ruang bagi tamunya.

Bryan Cristante membuka pesta gol di menit ke-59, memecah kebuntuan dengan sepakan yang menyalakan semangat tribun. Evan Ndicka menambah keunggulan di menit ke-77, sebelum Nicolo Pisilli menutup kemenangan dengan gol ketiga di menit ke-86.

Skor 3-0 menjadi bukti dominasi Roma yang kini mantap bertengger di posisi ke-4 klasemen dengan 50 poin. Cremonese, sebaliknya, harus puas di urutan ke-16 dengan 24 poin—masih bergulat di zona rawan.


Milan Tersandung di San Siro

Berbeda nasib dialami AC Milan. Menjamu Parma, Rossoneri justru kehilangan sentuhan tajam. Meski menguasai bola, Milan gagal menembus pertahanan rapat Parma. Dan ketika laga memasuki menit ke-80, Mariano Troilo mencuri panggung dengan gol tunggal yang membungkam San Siro.

Kekalahan ini memang tidak menggoyahkan posisi Milan di peringkat kedua dengan 54 poin, tetapi memberi pesan keras bahwa konsistensi adalah harga mahal di perebutan scudetto.

Parma, dengan tambahan tiga poin, naik ke posisi ke-12 dengan 32 poin—cukup untuk menambah kepercayaan diri mereka.

Kontras Dua Kota, Satu Pekan

Pekan ke-26 menjadi potret kontras: Roma yang melesat dengan energi baru, Milan yang tersandung di kandang sendiri. Serie A, seperti biasa, menghadirkan drama yang tak pernah kehabisan cerita—antara kejayaan dan kejatuhan, antara sorak kemenangan dan hening kekalahan. (*S_267)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...