Langsung ke konten utama

Piala Dunia 2026 Diikuti 48 Negara, Inilah Analisis Singkat Grup

MENJUAL HARAPAN - Babak kualifikasi piala dunia 2026 telah berlangsung, dan ada timnas negara-negara peserta kualifikasi yang lolos dan tidak lolos ke piala dunia tersebut.

FIFA World Cup 2026 atau Piala Dunia 2026 dalam beberapa bulan lagi yang dimulai dari bulan Juni berlangsung diselenggarakan di Amerika Serikat, Kanada dan Meksiko.

Negara-negara peserta yang lolos berlaga di ajang sepak bola dunia dan berdasarkan pembagian fase grup sudah tuntas. Dan dalam ajang sepak bola dunia 2026 diikuti sebanyak 48 negara.

Inilah analisis singkat grup peserta Piala Dunia 2026.

GRUP A

GRUP B

GRUP C

Meksiko

Afrika Selatan

Korea Selatan

Republik Ceko

Kanada

Bosnia dan Herzegovina

Qatar

Swiss

Brasil

Maroko

Haiti

Skotlandia

GRUP D

GRUP E

GRUP F

Amerika Serikat

Paraguay

Australia

Turki

Jerman

Curacao

Pantai Gading

Ekuador

Belanda

Jepang

Swedia

Tunisia

GRUP G

GRUP H

GRUP I

Belgia

Mesir

Iran

Selandia Baru

Spanyol

Cape Verde

Arab Saudi

Uruguay

Prancis

Senegal

Irak

Norwegia

GRUP J

GRUP K

GRUP L

Argentina

Aljazair

Austria

Jordania

Portugal

Kongo

Uzbekistan

Kolombia

Inggris

Kroasia

Ghana

Panama

 

Grup A: Meksiko, Afrika Selatan, Korea Selatan, Republik Ceko

Meksiko sebagai tuan rumah punya keuntungan atmosfer dan dukungan publik.

Korea Selatan dikenal dengan disiplin taktik dan stamina tinggi.

Republik Ceko bisa jadi kuda hitam dengan gaya permainan teknis.

Afrika Selatan membawa semangat Afrika, tapi konsistensi jadi tantangan.

Meksiko dan Korea Selatan berpeluang besar lolos, tapi Ceko bisa mencuri kejutan.


Grup B: Kanada, Bosnia & Herzegovina, Qatar, Swiss

Kanada sedang naik daun dengan generasi emas.

Swiss punya pengalaman panjang di turnamen besar.

Bosnia punya kualitas individu, tapi sering kesulitan kolektivitas.

Qatar masih mencari identitas pasca jadi tuan rumah 2022.

Swiss unggul dengan pengalaman, Kanada bisa jadi pendamping lolos.


Grup C: Brasil, Maroko, Haiti, Skotlandia

Brasil tetap favorit dengan kedalaman skuad.

Maroko pasca semifinal 2022 membawa aura Afrika yang berbahaya.

Skotlandia punya fisik dan determinasi tinggi.

Haiti lebih sebagai underdog dengan semangat besar.

Brasil hampir pasti lolos, Maroko dan Skotlandia akan berebut tiket kedua.


Grup D: Amerika Serikat, Paraguay, Australia, Turki

AS punya momentum sebagai tuan rumah bersama.

Paraguay dikenal solid secara defensif.

Australia selalu jadi tim tangguh dengan mentalitas pekerja keras.

Turki punya sejarah kejutan, tapi inkonsistensi jadi masalah.

Amerika Serikat favorit, Turki bisa jadi lawan berbahaya.


Grup E: Jerman, Curacao, Pantai Gading, Ekuador

Jerman dengan tradisi juara tetap unggulan.

Pantai Gading punya fisik dan talenta menyerang.

Ekuador kuat di altitude dan stamina.

Curacao lebih sebagai tim debutan dengan semangat.

Jerman dominan, Pantai Gading dan Ekuador akan bersaing ketat.


Grup F: Belanda, Jepang, Swedia, Tunisia

Belanda dengan filosofi total football tetap menarik.

Jepang semakin matang dengan disiplin dan teknik.

Swedia punya fisik dan organisasi pertahanan.

Tunisia bisa jadi pengganggu dengan gaya cepat.

Prediksi: Belanda dan Jepang unggul, Swedia berpotensi kejutan.


Grup G: Belgia, Mesir, Iran, Selandia Baru

Belgia masih bertumpu pada generasi emas meski menua.

Mesir dengan Mo Salah jadi ancaman besar.

Iran punya organisasi defensif kuat.

Selandia Baru lebih sebagai tim penghibur.

Belgia dan Mesir favorit, Iran bisa merepotkan.


Grup H: Spanyol, Cape Verde, Arab Saudi, Uruguay

Spanyol dengan tiki-taka modern tetap unggulan.

Uruguay punya tradisi garang dengan pemain berpengalaman.

Arab Saudi bisa jadi kejutan seperti 2022.

Cape Verde debutan dengan semangat tinggi.

Prediksi: Spanyol dan Uruguay unggul, Arab Saudi berpotensi kejutan.


Grup I: Prancis, Senegal, Irak, Norwegia

Prancis dengan kedalaman skuad luar biasa.

Senegal kuat secara fisik dan mental.

Norwegia dengan Haaland jadi ancaman besar.

Irak lebih sebagai tim penghibur.

Prediksi: Prancis favorit, Senegal dan Norwegia akan bersaing ketat.


Grup J: Argentina, Aljazair, Austria, Jordania

Argentina juara bertahan dengan Messi generasi penerus.

Aljazair punya teknik tinggi.

Austria solid secara kolektif.

Jordania debutan dengan semangat.

Prediksi: Argentina dominan, Aljazair bisa jadi pendamping.


Grup K: Portugal, Kongo, Uzbekistan, Kolombia

Portugal dengan Ronaldo generasi penerus tetap kuat.

Kolombia punya flair Amerika Selatan.

Kongo dan Uzbekistan lebih sebagai underdog.

Prediksi: Portugal dan Kolombia unggul.


Grup L: Inggris, Kroasia, Ghana, Panama

Inggris dengan skuad muda berbakat.

Kroasia masih bertumpu pada pengalaman Modric dkk.

Ghana punya fisik dan semangat Afrika.

Panama lebih sebagai tim penghibur.

Prediksi: Inggris dan Kroasia favorit, Ghana bisa jadi pengganggu.


Penutup

Turnamen ini menjanjikan benturan gaya: tradisi Eropa, flair Amerika Selatan, stamina Asia, dan semangat Afrika.

Grup C (Brasil, Maroko, Skotlandia) dan Grup I (Prancis, Senegal, Norwegia) terlihat paling kompetitif, sementara Grup E dan Grup L akan jadi panggung duel klasik antara raksasa dan penantang. (S_267)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...