Langsung ke konten utama

MEMBACA HARI PENDIDIKAN NASIONAL

MENJUAL HARAPAN - Mengingat setiap tanggal 2 Mei, kita merayakan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Sebuah momentum yang dipatok dari hari lahir Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, atau yang lebih populer kita kenal sebagai Ki Hadjar Dewantara.

Pada titik persoalan ini, sudahkah kita sungguh-sungguh “membaca” arah pendidikan kita?

Pada renungan reflektif ini, membaca Hardiknas berarti membaca kembali filosofi dasar Among yang diwariskan Bapak Pendidikan kita.

Pendidikan bukan sekadar proses transfer informasi, melainkan upaya sadar memanusiakan manusia.

Ki Hadjar Dewantara menegaskan bahwa pendidikan adalah tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak (Dewantara, 1962). Artinya, pendidik tidak bisa memaksakan kehendak, melainkan hanya mampu menuntun kodrat alam, agar anak dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.

Memang, realitas di lapangan seringkali berkata lain. Narasi pendidikan kita kerap terjebak dalam angka-angka statistik, dan standarisasi yang kaku. Kita sering melihat ruang kelas sebagai pabrik, di mana siswa dicetak dengan cetakan yang sama tanpa mempedulikan keunikan individu.

Hal ini menjadi paradoks, mengingat dunia masa depan justru menuntut fleksibilitas dan kreativitas yang tidak bisa lahir dari sistem yang seragam.

Bahkan, dalam konteks global, tantangan pendidikan kita semakin kompleks. Seperti diungkapkan Paulo Freire, seorang tokoh pendidikan kritis, pernah memberikan peringatan keras mengenai sistem pendidikan yang bersifat menindas. Freire (2005) menyatakan bahwa dalam konsep "bank" pendidikan, pengetahuan merupakan sebuah anugerah yang dihibahkan oleh mereka yang menganggap dirinya berpengetahuan kepada mereka yang mereka anggap tidak memiliki pengetahuan apa-apa. Jika pola ini masih bertahan, Hardiknas hanyalah perayaan kepatuhan, bukan pembebasan berpikir.

Narasi pendidikan populer saat ini mulai bergeser ke arah digitalisasi. Kita sering menganggap bahwa dengan memegang gawai, dan memiliki akses internet, masalah pendidikan seolah sudah selesai. Padahal, teknologi hanyalah alat. Inti dari pendidikan tetaplah interaksi manusiawi dan pembentukan karakter. Tanpa pegangan moral dan daya kritis, arus informasi yang deras justru bisa menjadi racun bagi nalar peserta didik.

Membaca Hardiknas, berarti menengok kesejahteraan para pendidik. Mustahil mengharapkan kualitas pendidikan yang melangit, jika nasib guru masih membumi dalam keterbatasan.

Guru adalah ruh dari sistem pendidikan. Sebagaimana diungkapkan oleh pakar pendidikan Henry Giroux, guru tidak boleh hanya menjadi teknisi kurikulum, melainkan harus menjadi intelektual transformatif yang mampu menghubungkan pengetahuan dengan pemberdayaan sosial.

Di tingkat kebijakan, transformasi kurikulum yang terus berubah seringkali membuat kegaduhan di tingkat akar rumput. Meskipun tujuannya mulia untuk beradaptasi dengan zaman, namun frekuensi perubahan yang terlalu cepat tanpa pendampingan yang mumpuni acapkali justru membingungkan praktisi di lapangan. Pendidikan membutuhkan konsistensi dan visi jangka panjang yang melampaui masa jabatan politik.

Selain latar itu juga, akses pendidikan yang merata masih menjadi pekerjaan rumah yang besar. Dalam arti, masih adanya kesenjangan antara sekolah di kota besar dengan sekolah di pelosok daerah, adalah cermin retak dari keadilan sosial.  

Hardiknas seharusnya menjadi pengingat bahwa hak atas pendidikan berkualitas, bukanlah kemewahan bagi segelintir orang, melainkan hak konstitusional bagi setiap anak bangsa tanpa terkecuali.

Kutipan menarik dari Howard Gardner mengenai kecerdasan majemuk juga patut kita renungkan dalam membaca hari besar ini.

Gardner (2011) berpendapat bahwa kita harus menghabiskan lebih sedikit waktu untuk memeringkat anak-anak, dan lebih banyak waktu untuk membantu mereka mengidentifikasi kompetensi dan bakat alami mereka serta mengembangkannya.

Pandangan ini menantang kita untuk merombak sistem evaluasi yang selama ini hanya mengagungkan nilai akademik semata.

Tampak, lebih jauh lagi, pendidikan nasional harus mampu menjawab tantangan krisis ekologi dan kemanusiaan. Siswa tidak hanya perlu pintar matematika atau bahasa, melainkan juga perlu memiliki empati terhadap lingkungan dan sesama.

Literasi bukan lagi sekadar kemampuan membaca huruf, melainkan kemampuan membaca keadaan zaman dan memberikan solusi atas masalah yang ada di hadapannya.

Momentum Hardiknas, titik tolak untuk mengevaluasi janji kemerdekaan dalam bidang pendidikan. Apakah kita sudah mencerdaskan kehidupan bangsa, atau hanya sekadar menyekolahkan bangsa? Sekolah hanyalah gedung, namun pendidikan adalah napas dari keberlanjutan sebuah peradaban.

Mari kita maknai kembali semboyan Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Kepemimpinan pendidikan harus memberikan teladan di depan, membangun semangat di tengah, dan memberikan dorongan dari belakang. Tanpa integrasi ketiga elemen ini, pendidikan kita hanya akan berjalan di tempat.

Hardiknas adalah momen untuk berhenti sejenak, menoleh ke belakang untuk belajar, dan menatap ke depan untuk berbenah.

Mari kita baca hari ini dengan penuh optimisme namun tetap kritis. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang gelisah, gelisah terhadap ketidakadilan, gelisah terhadap ketertinggalan, dan gelisah untuk terus mencari kebenaran demi masa depan Indonesia yang lebih cerah. (sjs*_267)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Skor Gol Perempat Final Betis Vs Braga 2-4, Braga Melenggang ke Semifinal Liga Eropa

  MENJUAL HARAPAN - SC Braga melaju ke babak semifinal Europa League atau Liga Eropa musim 2025-2026 usai bantai tuan urmah Real Betis dengan skor gol 4-2. B ertanding di Sevilla , JUmat dini hari WIB (17/4/2026), sesungguhnya tuan rumah Real betis unggul lebih dahulu 2-0 pada menit ke-13 dan 26 yang berturut-turut dicetak oleh Antony dan Abde Ezzalzouli. N amun, dengan taktik dan serangannya ke pertahanan Betis, pada menit ke-38 Pau Victor berhasil menjaringkan bola ke gawang kiper Betis, sehingga kedudukan menjadi 1-2. D uel kedua tim dengan intensitas tinggi, dan bahkan tuan rumah Betis mendominasi penguasaan bola. K edudukan 2-1 untuk keunggulan sementara Betis ini hingga tirun minum. Baca juga:  Bayern Muenchen ke Semifinal Usai Tumbangkan Real Madrid U sai jeda, kedua kesebelasan dengan ambisi memenangkan tiket ke semifinal Liga Eropa ini, pertandingan makin sengit, utamanya Real Betis yang unggul sementara terus meningkatkan akselerasi serangannya ke pertahanan lawan....

Persijap Menjauh Area Zona Degradasi Usai Taklukkan PSBS Biak

MENJUAL HARAPAN - Persijap Jepara berhasil taklukkan lawannya PSBS Biak dalam laga BRI Super League 2025-2026 pekan ke-26 yang berlangsung digelar di Stadion Gelora Bumi Kartini , Jepara , Jumat (24/4/2026). Dua gol diraih Persijap Jepara pada menit ke-20 lewat  tusukan tendangan Borja Herrera pada menit ke-20, dan Franca di menit ke-67. P ada laga ini, Persijap Jepara, memang secara statistik relatif mendominasi penguasaan bola sejak babak pertama dan babak kedua. D uel-duel pemain, tak bisa terhindar dalam memperebutkan kemenangan pertandingan pekan ini. P ersijap Jepara terus menekan dengan serangan-serangannya dari berbagai lini. B egitu juga dengan PSBS Biak, sesekali memberi ancaman ke gawang kiper Persijap Jepara. PSBS Biak sejak kebobolan di babak pertama, berusaha menekan untuk menyamakan kedudukan, namun hadangan para pemain tuan rumah membuat serangannya gagal menghasilkan gol. D alam babak kedua, tuan rumah Persijap Jepara, memiliki animo yang kuat setelah memiliki ...

Dua Papan Atas Bayern Muenchen Vs VfB, Bayern Makin Kokoh di Klasemen

MENJUAL HARAPAN - Stadion Allianz Arena , Munchen kembali jadi saksi bisu kekokohan tim Bayern Muenche. Pada pekan ke-30, Bayern menjamu tim VfB yang juga berada di papan atas. Minggu dini hari WIB (19/4/2026), Bayern Muenchen menghancurkan harapan lawannya VfB dengan skor gol 4-2. Memang, tuan rumah Bayern Muenchen pada babak pertama kecolonongan lebih dahulu gawang kipernya kebobolan lewat tendangan pemain VfB Chris Fuhrich . Namun, pada menit ke-31 Bayern Muenchen berhasil menyamakannya. Gol balasan tuan rumah dicetak oleh Raphael Guerreiro , kemudian dua menit berikutnya, yaitu menit ke-33 Nicolas Jackson menambah untuk keunggulan Bayern Muenchen menjadi 2-1. Baca juga:  Freiburg Raih Kemenangan Lawan Heidenheim Belum selang lama dari gol kedua tuan rumah, menit ke-37 serangan Bayern Muenchen kembali membobol gawang kiper VfB melalui tendangan Alphonso Davies , sehingga kedudukan menjadi 3-1 hingga turun minum. Usai jeda, dan memasuki babak kedua, keduanya sama-sama ngotot un...