Langsung ke konten utama

Korupsi (Nyaris) Tiada Henti

MENJUAL HARAPAN - Persoalan korupsi di Indonesia tiada henti. Baru-baru ini Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan oprasi tangkap tangan (OTT) dua kepala daerah, yaitu Wali Kota Madiun, dan Bupati Pati.

Tampaknya, korupsi di Indonesia bukan sekadar perilaku menyimpang individu, akan tetapi merupakan gejala sistemik yang berakar pada kelemahan institusi, insentif politik-ekonomi yang salah, dan budaya birokrasi yang permisif terhadap penyalahgunaan kewenangan.

Kajian akademik juga menunjukkan korupsi terjadi lintas sektor, mencakup penyuapan, penggelapan, gratifikasi, dan penyalahgunaan kekuasaan, dengan dampak yang merusak stabilitas, kepercayaan publik, dan kapasitas negara untuk melayani warga. Dalam kerangka kebijakan publik, ini menandakan kegagalan desain institusional: aturan ada, tetapi tidak efektif; pengawasan ada, tetapi tidak tajam; sanksi ada, tetapi tidak menimbulkan efek jera (https://multi.risetakademik.com).

“Korupsi di Indonesia bersifat sistemik dan terjadi di berbagai sektor, disebabkan oleh faktor individu, kelembagaan, lemahnya penegakan hukum, dan minimnya pengawasan.” (Hidayat et al., 2025)

Pragmatisme, Keserakahan, dan Sistem yang Gagal

Pakar hukum tata negara menyoroti tiga akar yang membuat korupsi sulit diberantas: pragmatisme politik, keserakahan, dan kegagalan membangun sistem yang baik. Pragmatismenya tampak dalam politik biaya tinggi, patronase, dan kompromi transaksional yang menormalisasi “jalan pintas” demi kelangsungan kekuasaan. Keserakahan—dorongan individual untuk akumulasi cepat—bertemu dengan celah sistemik, menghasilkan perilaku oportunistik. Ketika sistem pengendalian internal lemah, transparansi rendah, dan akuntabilitas tidak konsisten, perilaku menyimpang menjadi rasional secara instrumental (Mochtar, 2025 (https://jogja.tribunnews.com)  “Pragmatisme, keserakahan, dan kegagalan dalam membangun sistem yang baik” adalah akar korupsi yang berulang (Mochtar, 2025).

Desain kebijakan yang rentan dan penegakan yang timpang

Kelemahan desain layanan publik: Proses yang berbelit, discretionary power yang luas, dan standar layanan yang tidak jelas membuka ruang rente. Rekomendasi klasik—merancang ulang dan merestrukturisasi layanan publik—bertujuan mengurangi discretionary power dan memperkuat transparansi prosedural (https://e-jurnal.peraturan.go.id). 

Saran kebijakan: “merancang dan merestrukturisasi layanan publik, memperkuat transparansi, pengawasan, dan sanksi” (Adi, t.t.).

Pengawasan dan sanksi: Minimnya pengawasan independen dan sanksi yang tidak konsisten melemahkan efek jera. Ketika audit, investigasi, dan penuntutan tidak terintegrasi, korupsi menjadi “biaya operasional” yang dapat dinegosiasikan.

Hambatan struktural dan budaya: Hambatan struktural (fragmentasi kewenangan, tumpang tindih regulasi) berpadu dengan hambatan budaya (toleransi terhadap gratifikasi, loyalitas patron-klien) sehingga reformasi sering berhenti di permukaan—mengubah aturan tanpa mengubah insentif.

Ekonomi politik korupsi

Korupsi tumbuh subur ketika insentif kebijakan mendorong perilaku rente: alokasi anggaran yang tidak transparan, pengadaan yang rawan konflik kepentingan, dan politik biaya tinggi yang menuntut “balas budi” melalui akses proyek dan jabatan. Kasus-kasus besar yang mencuat—dari tata kelola komoditas strategis hingga lembaga pembiayaan—menggambarkan bagaimana korupsi beroperasi pada level kebijakan, bukan sekadar transaksi kecil di lapangan ((https://jogja.tribunnews.com ).

Dalam kerangka principal–agent, publik sebagai principal kehilangan daya kontrol karena informasi asimetris dan mekanisme akuntabilitas yang lemah; sementara agent (pejabat/politisi) merasionalisasi perilaku menyimpang ketika probabilitas tertangkap rendah dan manfaat tinggi (https://multi.risetakademik.com dan https://e-jurnal.peraturan.go.id ).

Etika pemerintahan

Etika pemerintahan menuntut lebih dari sekadar kepatuhan terhadap aturan, ia menuntut integritas substantif, yaitu komitmen pada kepentingan publik, keadilan prosedural, dan akuntabilitas yang dapat diverifikasi. Ketika budaya organisasi menoleransi “penyimpangan kecil” (gratifikasi, hadiah, akses istimewa), batas etika bergeser perlahan hingga perilaku menyimpang menjadi normal.

Pendidikan etika tanpa perubahan insentif dan teladan kepemimpinan hanya menghasilkan retorika. Integritas harus ditopang oleh sistem: deklarasi konflik kepentingan yang wajib dan diaudit, pelaporan kekayaan yang diverifikasi, serta perlindungan pelapor yang efektif (https://multi.risetakademik.com dan https://e-jurnal.peraturan.go.id ).

Refleksi

Korupsi bertahan karena ia rasional dalam sistem yang salah, manfaatnya tinggi, risikonya rendah, dan budaya organisasi menoleransinya. Mengubahnya berarti mengubah kalkulus: membuat perilaku bersih lebih mudah dan menguntungkan, serta perilaku menyimpang lebih berisiko dan memalukan. Ini bukan sekadar soal menambah aturan, melainkan menyelaraskan desain kebijakan, insentif politik, dan etika pemerintahan. 

Ketika teladan kepemimpinan bertemu akuntabilitas yang tajam dan proses yang transparan, korupsi kehilangan oksigen. Jika tidak, kita hanya memindahkan kursi dalam ruangan yang sama. (sh_267)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pekan ke-19 Premier League: Chelsea Vs Bournemouth, West Ham Lawan Brighton, dan MU Vs Wolves, Hasilnya Imbang

  MENJUAL HARAPAN - Pekan ke-19 Premier League atau Liga Inggris musim 2025-2026 menyuguhkan pertandingan lanjutan di antaranya Chelsea berhadapan dengan Bourneout, Manchester United versus Wolves, dan West Ham lawan Brighton. Chelsea Vs Bournemouth T uan rumah Chelsea kontra Bournemouth berakhir imbang dengan skor gol akhir 2-2. B ertanding langsung digelar di di Stadion Stamford Bridge, London,  Rabu dini hari WIB   (31/12/2025) , tuan rumah Chelsea kebobolah lebih dahulu di menit ke-6, dimana David Brooks menggetarkan gawang kiper Chelsea. S embilan menit kemudian (15’), Chelsea berhasil membalasnya lewat tendangan penalti Cole Palmer, sehingga kedudkan menjadi 1-1. D uel babak pertama kedua tim ini sungguh sangat menengangkan, adu serang tiada henti mengancam pertahanan dan gawang kiper maisng-masing. A ksi serangan terus terujadid, utamanya tuan yang tidak mau kehilangan poin, terus menekan, sehingga pada menit ke-23, Enzo Fernandez berhasil mencetak gol ke gawang ki...

Tuan Rumah Pekan ke-19 Premier League: Burnley Vs Newcastle, dan Nottingham Forest Vs Everton Derita Kekalahan

MENJUAL HARAPAN - Burnley menjamu Newcastle  pada pekan ke-19 Liga Inggris, begitu juga dengan Nottingham Foret versus Everton, pada Rabu dini hari WIB (31/12/2025). Burnley berhadapan dengan Newcastle berlangsung digelar di Turf Moor, harus kecewa alami kekalahan dengan skor gol akhir 1-3 dari Newcastle. Kickoff babak pertama, justru Newcastle langsung menekan pertahanan tuan urmah Burnley, dan pada menit ke-2 gawang tuan rumah kebobolan lewat tendangan Joelinton. Tidak lama dari kebobolan pertama, Burnley kembali kebobolan pada menit ke-7 lewat tusukan yang dilakukan oleh Yoane Wissa, sehingga tertinggal 0-2. Baca juga:  Dua Papan Atas Arsenal Vs Aston Villa, Arsenal Sukses Taklukkan Aston Villa Tuan rumah Burnley berusaha bangkit dari ketertinggalan gol dari lawannya, dengan terus melakukan aksi serangan yang menekan pertahanan Newcastle, sehingga pada menit ke-23 berhasil membobol gawang kiper Newcastle yang dicetak oleh Josh Laurent. Kedudukan berubah menjadi 1-2 ini hing...

Arsenal Kokoh di Puncak Klasemen Usai Kalahkan Brighton, Burnley Vs Everton Imbang

MENUAL HARAPAN - Arsenal berhasil tumbangkan lawannya Brighton pada pekan ke-18 Premier League musim 2025-2026. Dua gol bagi kemenangan Arsenal terjadi pada menit ke-14 babak pertama lewat Martin Odegarrd yang menggetarkan gawang kiper Brighton, dan gol keduanya merupakan gol bunuh diri (GBD) pemain Brighton di menit ke-52. Sedangkan satu gol balasan Brighton terjadi pada menit ke-64 yang dicetak oleh Diego Gomez. Duel Arsenal versus Brighton ini berlangsung digelar di Emirates Stadium pada Sabtu (27/12/2025). Dengan nambah tiga poin hasil pertandingan pekan ke-18 ini, Arsenal makin kokoh di puncak klasemen dengan mengoleksi 42 poin, sedangkan Brighton berada di urutan ke-12 dengan mengoleksi 24 poin pada klasemen Liga Inggris pekan ke-18. Baca juga:  Liverpool Menang Tipis Lawan Wolves, West Ham Vs Fulham 0-1 Sedangkan pada pertandingan lainnya, Burnley berhadapan dengan Everton tidak membuahkan satu gol pun hingga pertandingan berakhir. Hasil imbang tanpa gol ini, Burnley di peka...