| Patrik Schick, penyerang andalan Leverkusen (foto hasil tangkapan layar dari https://www.sabcsport.com/) |
MENJUAL HARAPAN - Patrik Schick lahir di Praha, Republik Ceko, pada 24 Januari 1996. Dengan tinggi badan 1,91 meter, ia memiliki postur ideal untuk seorang penyerang tengah.
Kariernya dimulai di akademi Sparta Praha, klub besar di negaranya, sebelum menembus tim senior pada 2014. Namun, perjalanan Schick tidak langsung mulus; ia sempat dipinjamkan ke Bohemians 1905 untuk mendapatkan menit bermain, dan di sanalah bakatnya mulai terlihat dengan torehan delapan gol dalam satu musim.
Langkah besar berikutnya datang ketika ia pindah ke Italia bersama Sampdoria pada 2016. Di Serie A, Schick mencetak 11 gol dalam satu musim, sebuah pencapaian yang membuat klub-klub besar mulai meliriknya. AS Roma kemudian merekrutnya pada 2017, tetapi periode di ibu kota Italia tidak berjalan sesuai harapan. Meski sempat menunjukkan kilasan kualitas, ia kesulitan menemukan konsistensi, hanya mencetak lima gol dalam 46 penampilan liga.
Baca juga: Anthony Gordon dari Everton ke Panggung
Titik balik karier Schick terjadi saat ia dipinjamkan ke RB Leipzig pada musim 2019-2020. Di Bundesliga, ia menemukan kembali ketajamannya dengan mencetak 10 gol dalam 22 laga. Penampilan itu membuka jalan bagi transfer permanen ke Bayer Leverkusen pada September 2020. Sejak saat itu, Schick benar-benar menjelma menjadi penyerang andalan Die Werkself.
Bersama Leverkusen, Schick tampil konsisten dan produktif. Hingga awal 2026, ia telah mencetak lebih dari 70 gol dalam 138 penampilan liga. Ketajamannya di kotak penalti, kemampuan duel udara, serta penyelesaian klinis dengan kaki kiri menjadikannya salah satu striker paling berbahaya di Bundesliga. Kontraknya bahkan diperpanjang hingga 2030, menegaskan betapa pentingnya peran Schick bagi proyek jangka panjang Leverkusen.
Di level internasional, Schick juga menjadi pilar utama tim nasional Republik Ceko. Ia sudah mencatat 50 caps dengan 24 gol, termasuk momen ikonik di Euro 2020 ketika mencetak gol spektakuler dari jarak jauh melawan Skotlandia. Gol itu bukan hanya memperlihatkan teknik luar biasa, tetapi juga keberanian dan insting seorang penyerang sejati.
Musim 2025-2026 kembali menegaskan statusnya sebagai penyerang kelas dunia. Dua gol cepatnya melawan Olympiakos di play-off Liga Champions menunjukkan efisiensi yang luar biasa. Schick tidak membutuhkan banyak peluang; dengan satu atau dua sentuhan, ia mampu mengubah jalannya pertandingan. Inilah ciri khas striker klasik yang semakin jarang ditemui di era sepak bola modern.
Kisah Patrik Schick adalah tentang ketekunan dan transformasi. Dari masa sulit di Roma hingga kebangkitan di Bundesliga, ia membuktikan bahwa perjalanan karier tidak selalu lurus, tetapi kerja keras dan keyakinan bisa membawa seorang pemain ke puncak. Kini, Schick bukan hanya simbol ketajaman Leverkusen, tetapi juga representasi penyerang Eropa yang masih setia pada peran tradisional: mencetak gol, mengubah laga, dan menjadi penentu nasib tim. (*S_267)
Komentar