Langsung ke konten utama

Sosialisasi 4 Konsensus Kebangsaan Menjawab Ancaman Judi Online



MERAUKE, MENJUAL HARAPAN - Di tengah gempuran teknologi digital yang kian tak terbendung, Balai Kampung Bokem, Distrik Merauke, Papua Selatan, menjadi ruang perlawanan moral. Pada 5 Agustus 2025, Anggota MPR/DPR RI Dapil Papua Selatan, H. Sulaeman L. Hamzah, menggelar Sosialisasi 4 Konsensus Kebangsaan ke-5 bersama tokoh adat, tokoh masyarakat, petani, dan nelayan.

Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas kenegaraan, melainkan dialog reflektif tentang nilai-nilai dasar bangsa di tengah ancaman judi online yang meresahkan.

Di hadapan 150 peserta, Sulaeman membuka ruang diskusi secara  terbuka. Salah satu peserta menyampaikan keresahannya, yaitu: sindikat judi online telah menyusup ke lingkungan mereka, melibatkan anak muda dan menciptakan kekhawatiran akan kerusakan moral yang sistemik. Pertanyaan pun mengemuka, bagaimana negara dan masyarakat bisa bersinergi menghadapi ancaman digital yang tak mengenal batas?

Menjawab itu, Sulaeman memaparkan regulasi yang telah diterapkan pemerintah -- KUHP, UU ITE, dan UU TPPU -- sebagai dasar hukum pemberantasan judi online. Ia juga menyoroti peran Kementerian Komunikasi dan Digital serta PPATK dalam memblokir situs dan melacak transaksi mencurigakan. Sulaeman menegaskan bahwa penegakan hukum saja tidak cukup. “Tanpa partisipasi aktif masyarakat, hukum hanya akan menjadi teks tanpa daya,” ujarnya.

Diskusi berkembang menjadi refleksi kolektif. Nilai-nilai Pancasila dihidupkan kembali sebagai pedoman etis. Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi tameng spiritual melawan godaan judi. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab menuntut rehabilitasi bagi korban kecanduan. Persatuan Indonesia mengingatkan bahwa judi online bukan sekadar masalah individu, melainkan ancaman terhadap solidaritas bangsa.

Tokoh adat dan tokoh agama pun diajak menjadi garda depan edukasi moral. Orang tua diminta lebih aktif mendampingi anak-anak mereka di dunia digital. Bahkan petani dan nelayan merasa terpanggil menjaga komunitas dari infiltrasi budaya instan yang destruktif. Sosialisasi ini menjelma menjadi gerakan moral yang membumi, bukan sekadar seremonial.

Fenomena judi online juga dikupas dari sisi ekonomi dan sosial. Strategi pemasaran agresif, ilusi kemenangan instan, dan kemudahan akses membuat masyarakat tergoda. Di Jakarta, pengguna judi online mencakup pelajar, pekerja kantoran, hingga ibu rumah tangga. Nilai transaksi mencapai Rp327 triliun pada 2023, menunjukkan betapa besar daya tariknya. “Ini bukan hanya soal hiburan ilegal, tapi bagian dari ekosistem kejahatan yang lebih besar,” tegas Sulaeman.

Dalam konteks Empat Pilar Kebangsaan, judi online bertentangan dengan seluruh nilai Pancasila. Oleh karena itu, pendekatan kolektif diperlukan, yaitu penguatan regulasi, literasi digital, rehabilitasi, pemberdayaan ekonomi, dan kolaborasi lintas lembaga. Pemerintah dan masyarakat harus bersatu, bukan hanya untuk memberantas judi online, tetapi untuk memperkuat penerapan nilai-nilai kebangsaan.

Sosialisasi ini ditutup dengan harapan yang kuat, yaitu agar nilai-nilai Pancasila tidak hanya menjadi wacana, tetapi menjadi laku hidup. Merauke hari itu bukan hanya lokasi kegiatan, tetapi simbol bahwa suara kebangsaan masih bergema dari timur Indonesia. Dari kampung kecil seperti Bokem, gelombang perubahan itu bisa menyebar--bukan dengan kekuasaan, tapi dengan kesadaran.

Dan di era digital yang penuh godaan, kesadaran itulah yang menjadi benteng terakhir bangsa. (Hm_267*)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...