Langsung ke konten utama

Japan Open 2025: Putri, Fajar/Fikri, dan Lanny/Siti ke Perempat Final


 


MENJUAL HARAPAN - Delapan wakil Indonesia yang lolos ke babak 16 besar, tersisa tiga yang lolos ke babak perempat final tournamen badminton Japan Open 2025.

Tiga pebulutangkis Indonesia yang melaju ke perempat final tournamen badminton BWF World Tour Super 750, Japan Open 2025 adalah tunggul putri, Putri Kusuma Wardani, ganda putra Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri, dan ganda putri Lanny Tria Mayasari/Siti Fadia Silva Ramadhanti.

Sementara yang gugur di babak 16 besar Japan Open 2025, yaitu tunggal putra Alwi Farhan, ganda putri Febriana Dwipuji Kusuma/Amallia Cahaya Pratiwi, dan ganda campuran, yaitu Rehan Naufal Kusharjanto/Gloria Emanuelle Widjaja, Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah, dan Jafat Hidayatullah/Felisha alberta Nathaniel Pasaribu.

Tiga pebulutangkis Indonesia yang lolos ke perempat final Japan Open 2025.

Tunggal putri: Putri Kusuma Wardani mengalahkan tunggal putri Jepang Tomoka Miyazaki dengan dua gim langsung: 21-17, 21-14.

Ganda putra: Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri menjatuhkan ganda putra Denmark Rasmus Kjaer/Frederik Sogaard dengan rubber gim: 21-14, 19-21, dan 21-11.

Ganda putri: Lanny Tria Mayasari/Siti Fadia Silva Ramadhanti versus Mizuki Otake/Miyu Takahashi (Jepang): 21-17, 21-14.

Sedangkan lima pebulutangkan Indonesia yang gugur ke perempat final Japan Open 2025.

Tunggal putra: Alwi Farhan vs Alex Lanier (Prancis): 21-14, 15-21, dan 18-21.

Ganda putri: Febriana Dwipuji Kusuma/Amallia Cahaya Pratiwi vs Kim Hye-jeong/Kong Hee-yong (Korea Selatan): 22-20, 19-21, dan 11-21.

Ganda campuran:

Rehan Naufal Kusharjanto/Gloria Emanuelle Widjaja vs Tang Chun Man/Tse Ying Suet (Hong Kong): 17-21, 19-21

Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah vs Hiroki Midorikawa/Natsu Saito (Jepang): 21-23, 21-18, dan 14-21

Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu vs Chen Tang Jie/Toh Ee Wei (Malaysia): 21-17, 16-21, dan 12-21.

(S_267)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Balik Saklar yang Padam: Jeritan Ekonomi Akar Rumput dan Gugatan atas Ketahanan Energi

Foto hasil tangkapan layar dari ekbis.sindonews.com MENJUAL HARAPAN — Isu pemadaman listrik hari-hari ini, bukan sekadar masalah teknis transmisi, atau gangguan pasokan batu bara. Ini adalah potret kerentanan social, dimana mati lampu menjadi “badai” kecil yang menghantam ruang domistik keluarga, dan memutus urat nadi ekonomi wong cilik . Bagi korporasi besar, pemadaman listrik mungkin hanya berarti deru genset cadangan yang mulai menyala. Namun bagi masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro, padamnya aliran listrik adalah interupsi massal yang merenggut pendapatan harian hingga mengacaukan ruang domestik keluarga. Fenomena pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa dalam beberapa pekan terakhir memicu sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak PT PLN (Persero) tidak hanya berfokus pada perbaikan teknis, melainkan wajib memitigasi dampak sosial-ekonomi yang nyata dirasakan masyarakat. “Pemadaman listrik bergilir yang cukup besar ini menyentuh aspek pr...

Paradoks Parpol Koalisi Versus Nalar Kritis PDI Perjuangan

Oleh: Silahudin * ) MENJUAL HARAPAN - Atmosfer politik nasional belakangan ini kian gerah, suhunya makin memanas bukan karena anomali cuaca, akan tetapi karena suhu ketegangan yang mendidih antara partai-partai koalisi pemerintah dengan PDI Perjuangan (PDIP). Genderang perang urat syaraf terus ditabuh di hadapan publik. Sindiran, deklarasi ketidaknyamanan, hingga reaksi defensif yang agresif dari lingkaran koalisi penguasa, seolah membenarkan sebuah pameo klasik, bahwa kekuasaan cenderung alergi terhadap cermin yang jernih. Fenomena "kebakaran jenggot" yang diperlihatkan oleh partai-partai koalisi pemerintah terhadap posisi kritis PDIP sebagai partai penyeimbang (atau oposisi faktual) memicu sebuah pertanyaan fundamental, mengapa sebuah rezim dengan legitimasi mayoritas begitu rapuh dan gusar menghadapi satu suara kritis? Kuat di Parlemen, Rapuh di Ruang Publik Memang, diakui atau tidak secara kalkulasi matematika politik, koalisi pemerintah saat ini memegang kend...

Refleksi Historis, dan Legitimasi Kepemimpinan

MENJUAL HARAPAN - Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya dihadapan Sidang Tahunan MPR RI, 15 Agustus 2025, menjahit masa lalu, masa kini, dan aspirasi masa depan sebagai benang legitimiasi. Presiden dalam pidatonya membuka ruang historis, yaitu Proklamasi 17 Agustus 1945 diposisikan sebagai “momen penting dalam perjuangan panjang bangsa ini…,” titik asal yang terus “menggali” tugas-tugas kenegaraan yang belum tuntas. Dengan begitu, sejarah bukan sekadar arsip, melainkan sumber daya simbolik yang ditarik ke masa kini untuk meneguhkan mandat (ingat, mandat tak hanya lahir dari suara, tetapi juga dari narasi). Dalam kerangka sosiologi politik, ini serupa dengan apa yang Benedict Anderson sebut sebagai komunitas imajiner   ke-kitaan   yang diproduksi oleh kisah bersama dan ritus kebangsaan, tempat Proklamasi berfungsi sebagai “mitos pendiri” yang mempersatukan (Anderson, 2016). Lapisan kedua legitimasi dibangun melalui klaim kontinuitas , yaitu  penghormatan kepada para p...