Langsung ke konten utama

Mengapa OTT Belum Cukup Mematikan Syahwat Korupsi?

MENJUAL HARAPAN - Lampu ruang penyidikan di Gedung Merah Putih KPK nyaris tak pernah padam. Kamis itu, 5 Februari 2026, deretan mobil hitam kembali memasuki pelataran, membawa "tangkapan" baru dari Depok. Di dalamnya, seorang hakim—sang wakil Tuhan di bumi—terunduk lesu setelah penyidik mengamankan gepokan uang senilai ratusan juta rupiah.

Kasusnya klise: dugaan suap. Sebuah pola repetitif yang seolah menjadi kaset rusak dalam narasi penegakan hukum kita. Meski OTT dilakukan berulang kali, mengapa jeruji besi tak kunjung menciptakan efek jera bagi para pemegang palu keadilan?

Ritual Penangkapan yang Kehilangan "Taji" Psikologis

Secara statistik, OTT adalah senjata paling spektakuler milik KPK. Namun, secara psikologis, "hama" korupsi tampaknya telah bermutasi. Fenomena ini bisa kita bedah melalui beberapa sudut pandang kritis:

1. Normalisasi Risiko (High Risk, High Reward)

Bagi oknum pejabat, tertangkap OTT dianggap sebagai "nasib sial" ketimbang konsekuensi moral. Ketika keuntungan dari korupsi jauh melampaui risiko hukuman yang seringkali didiskon di tingkat kasasi atau peninjauan kembali, maka korupsi menjadi kalkulasi bisnis yang rasional.

2. Lemahnya Sanksi Sosial

Dulu, tersangka korupsi akan menutup wajah karena malu. Kini, tak jarang mereka melempar senyum atau lambaian tangan di depan kamera. Tanpa adanya sanksi sosial yang ekstrem—seperti pemiskinan total atau pengucilan sistemik—seragam oranye tak lebih dari sekadar kostum transit menuju sel yang (terkadang) masih memiliki fasilitas lebih baik dari kontrakan buruh.

3. Integritas yang Terbeli di Hilir

Kasus hakim di Depok ini mencerminkan lubang besar di jantung peradilan. Saat benteng terakhir keadilan bisa disuap, maka hukum bukan lagi panglima, melainkan komoditas. OTT hanya membersihkan dahan yang busuk, namun gagal mencabut akar sistem rekrutmen dan pengawasan internal yang rapuh.

Antara Penindakan dan "Pertunjukan"

Kita harus jujur bertanya: Apakah OTT selama ini telah menyentuh pemicu struktural korupsi? "Ada ratusan juta (rupiah)," ujar Wakil Ketua KPK Fitroh Rohcahyanto singkat.

Angka tersebut mungkin kecil dibandingkan kerugian negara di sektor pertambangan atau infrastruktur, namun nilainya sangat besar dalam merusak kepercayaan publik terhadap institusi peradilan. Selama KPK hanya berfokus pada penindakan hilir (menangkap saat uang berpindah tangan) tanpa perbaikan sistem hulu (digitalisasi putusan, transparansi aliran dana pejabat, dan perlindungan saksi yang kuat), maka OTT hanya akan menjadi rutinitas tanpa akhir.

Menggugat Jera: Apa yang Harus Berubah?

Untuk menghentikan praktik lancung ini, narasi "pemberantasan" harus bergeser menjadi "pematian sistemik". Beberapa langkah radikal yang patut dipertimbangkan:

lPemiskinan Tanpa Ampun: Penggunaan UU TPPU (Tindak Pidana Pencucian Uang) harus menjadi menu wajib dalam setiap OTT agar pelaku kehilangan seluruh asetnya.

lReformasi Yudisial Total: Bukan sekadar pengawasan oleh Komisi Yudisial, tapi perombakan sistem karir hakim yang lebih transparan dan berbasis meritokrasi murni.

lPendidikan Integritas Berbasis Bukti: Menanamkan bahwa korupsi bukan hanya soal melanggar aturan, tapi menghancurkan masa depan generasi.

Penutup

Penangkapan hakim di Depok adalah pengingat pahit bahwa jubah hitam tak otomatis menjamin putihnya nurani. OTT adalah alarm, namun alarm yang terus berbunyi tanpa ada yang bangun untuk memperbaiki rumah hanya akan dianggap sebagai bising yang mengganggu telinga.

Tanpa keberanian politik untuk mengesahkan RUU Perampasan Aset, OTT akan tetap menjadi tontonan dramatis satu malam yang gagal membuat para koruptor bermimpi buruk. (Sjs_267)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tatap Pemilu 2029, PDIP Perluas Struktur Rakernas Jadi 7 Komisi

  Foto dok. DPP PDI Perjuangan JAKARTA , MENJUAL HARAPAN   – Bertepatan dengan peringatan HUT ke-53, PDI Perjuangan resmi membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I tahun 2026 di Beach City International Stadium (BCIS), Ancol, Jakarta Utara. Rakernas kali ini tampil beda dengan membawa format organisasi yang lebih gemuk dan substansial dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, mengungkapkan bahwa forum tertinggi partai ini bukan sekadar seremoni, melainkan momentum krusial untuk melakukan evaluasi total melalui kritik dan otokritik. Hal ini dilakukan guna mempertajam arah perjuangan partai dalam menjawab berbagai persoalan bangsa yang kian kompleks. Fokus pada Persoalan Rakyat Langkah nyata dari penguatan struktur ini terlihat dari pembentukan **tujuh komisi kerja**, melonjak signifikan dari format sebelumnya yang biasanya hanya terdiri dari tiga komisi utama. “Penambahan komisi ini adalah bukti bahwa partai menaruh skala priori...

PEMBAJAKAN KEDAULATAN

Serangan AS ke Venezuela (Foto hasil tangkapan layar dari https://www.kbknews.id/) MENJUAL HARAPAN - Sejarah hubungan internasional , baru saja mencatat tinta hitam yang paling kelam di awal tahun 2026. Tindakan pemerintahan Donald Trump yang menginstruksikan operasi militer untuk menangkap kepala negara berdaulat di tanahnya sendiri , bukan lagi sekadar kebijakan luar negeri yang keras, melainkan sebuah anarkisme global. Apa yang terjadi di Caracas bukanlah sebuah pembebasan, melainkan "pembajakan kedaulatan" secara terang-terangan yang merobek paksa Piagam PBB dan prinsip-prinsip dasar kemanusiaan. Narasi yang dibangun Washington sangatlah klasik: penegakan hukum terhadap narko-terorisme dan perlindungan hak asasi manusia. Akan tetapi, d i balik tuduhan hukum tersebut, terdapat nafsu lama untuk mengamankan cadangan minyak terbesar di dunia. Trump tidak sedang bertindak sebagai polisi dunia, melainkan sebagai eksekutor kepentingan korporasi yang menggunakan kekuatan militer ...

Populisme Fiskal Vs Rasionalitas Teknis: Pelajaran dari Jawa Barat

Gedung Satu (Foto hasil tangkapan layar dari  https://koran.pikiran-rakyat.com ) K risis fiskal Jawa Barat akibat gaya kepemimpinan populis menunjukkan pentingnya keseimbangan antara populisme dan teknokratisme . P opulisme memberi legitimasi politik , dan kedekatan dengan rakyat, sementara teknokratisme menjaga rasionalitas, akuntabilitas, dan keberlanjutan kebijakan. Tanpa sintesis keduanya, populisme berisiko jatuh pada janji berlebihan tanpa realisasi, sedangkan teknokratisme murni bisa kehilangan dukungan rakyat. Kepala daerah idealnya merangkul rakyat sekaligus disiplin fiskal agar kebijakan tetap populer, efektif, dan berkelanjutan. Oleh: Silahudin Dosen FISIP Universitas Nurtanio Bandung   MENJUAL HARAPAN - KEGAGALAN Pemerintah Provinsi Jawa Barat membayar kontraktor sebesar Rp 621 miliar pada akhir tahun anggaran 2025, bukan sekadar angka di neraca keuangan. Hal ini, cermin besar yang memperlihatkan bagaimana gaya kepemimpinan populis, meski mampu membangun kedekatan ...