Langsung ke konten utama

Pekan ke-12 Premier League 2025/2026: Ketika Papan Tengah Memanas dan MU Terpeleset di Old Trafford

MENJUAL HARAPAN - Pekan ke-12 Premier League musim ini menyuguhkan dinamika yang semakin kompleks di papan tengah klasemen. Sorotan utama jatuh pada kekalahan Manchester United dari Everton dengan skor tipis 0-1. Bermain di kandang sendiri, Setan Merah gagal mengonversi dominasi penguasaan bola menjadi gol, sementara Everton tampil efisien dan disiplin.

Gol tunggal Everton dicetak oleh Kieman Dewsbury-Hall pada menit ke-29, memanfaatkan kelengahan lini tengah MU yang gagal menutup ruang transisi. Dewsbury-Hall, yang musim ini tampil konsisten sebagai motor serangan, menyelesaikan peluang dengan tenang dari luar kotak penalti. Gol tersebut menjadi pembeda dalam laga yang secara statistik cukup berimbang.

Kekalahan ini membuat MU tertahan di peringkat ke-10 dengan 18 poin, sama dengan Everton yang naik ke posisi ke-11. Namun, MU unggul tipis dalam produktivitas gol. Hasil ini memperpanjang tren inkonsistensi MU yang dalam lima laga terakhir hanya meraih dua kemenangan, satu hasil imbang, dan dua kekalahan.

Di sisi lain, Arsenal semakin kokoh di puncak klasemen setelah meraih kemenangan kesembilan musim ini. Dengan 29 poin dan selisih gol +18, The Gunners menunjukkan stabilitas yang menjadi modal penting dalam perburuan gelar. Chelsea dan Manchester City membuntuti di posisi kedua dan ketiga, masing-masing dengan 23 dan 22 poin.

Aston Villa dan Crystal Palace juga tampil impresif. Villa menempati posisi keempat dengan 21 poin, sementara Palace di urutan kelima dengan 20 poin. Kedua tim menunjukkan keseimbangan antara lini serang dan pertahanan, dengan Palace hanya kebobolan sembilan gol dari 12 laga.

Brighton, Sunderland, dan Bournemouth bersaing ketat di zona 19 poin. Meski memiliki jumlah poin yang sama, ketiganya berbeda dalam selisih gol, yang bisa menjadi penentu krusial di akhir musim. Bournemouth menjadi satu-satunya tim di antara mereka yang memiliki selisih gol negatif (-1), menunjukkan bahwa lini belakang masih menjadi pekerjaan rumah.

Tottenham, yang biasanya menjadi pesaing empat besar, justru tertahan di posisi kesembilan. Dengan 18 poin dan selisih gol +4, Spurs belum menemukan konsistensi permainan. Hasil lima laga terakhir mereka menunjukkan pola naik-turun yang menghambat laju ke papan atas.

Kekalahan MU dari Everton bukan hanya soal kehilangan tiga poin, tapi juga soal mentalitas. Di tengah tekanan publik dan ekspektasi tinggi, performa MU belum menunjukkan arah yang jelas. Erik ten Hag, yang masih dipercaya sebagai pelatih, perlu merumuskan ulang strategi agar tim tidak terjebak dalam siklus stagnasi.

Everton, sebaliknya, menunjukkan bahwa efisiensi dan disiplin bisa menjadi senjata ampuh. Dengan materi pemain yang tidak seimpresif tim-tim besar, mereka mampu mencuri poin penting dan menjaga asa untuk menembus zona Eropa. Kemenangan atas MU menjadi bukti bahwa mereka bukan sekadar tim pengisi papan tengah.

Pekan ke-12 menjadi pengingat bahwa Premier League bukan hanya soal nama besar, tapi soal konsistensi, efisiensi, dan momentum. Dengan klasemen yang semakin rapat di papan tengah, setiap laga ke depan akan menjadi pertarungan mental dan taktik. MU harus segera bangkit, sementara tim-tim seperti Everton, Palace, dan Villa mulai menunjukkan bahwa mereka layak diperhitungkan. (S_267)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PEMBAJAKAN KEDAULATAN

Serangan AS ke Venezuela (Foto hasil tangkapan layar dari https://www.kbknews.id/) MENJUAL HARAPAN - Sejarah hubungan internasional , baru saja mencatat tinta hitam yang paling kelam di awal tahun 2026. Tindakan pemerintahan Donald Trump yang menginstruksikan operasi militer untuk menangkap kepala negara berdaulat di tanahnya sendiri , bukan lagi sekadar kebijakan luar negeri yang keras, melainkan sebuah anarkisme global. Apa yang terjadi di Caracas bukanlah sebuah pembebasan, melainkan "pembajakan kedaulatan" secara terang-terangan yang merobek paksa Piagam PBB dan prinsip-prinsip dasar kemanusiaan. Narasi yang dibangun Washington sangatlah klasik: penegakan hukum terhadap narko-terorisme dan perlindungan hak asasi manusia. Akan tetapi, d i balik tuduhan hukum tersebut, terdapat nafsu lama untuk mengamankan cadangan minyak terbesar di dunia. Trump tidak sedang bertindak sebagai polisi dunia, melainkan sebagai eksekutor kepentingan korporasi yang menggunakan kekuatan militer ...

Populisme Fiskal Vs Rasionalitas Teknis: Pelajaran dari Jawa Barat

Gedung Satu (Foto hasil tangkapan layar dari  https://koran.pikiran-rakyat.com ) K risis fiskal Jawa Barat akibat gaya kepemimpinan populis menunjukkan pentingnya keseimbangan antara populisme dan teknokratisme . P opulisme memberi legitimasi politik , dan kedekatan dengan rakyat, sementara teknokratisme menjaga rasionalitas, akuntabilitas, dan keberlanjutan kebijakan. Tanpa sintesis keduanya, populisme berisiko jatuh pada janji berlebihan tanpa realisasi, sedangkan teknokratisme murni bisa kehilangan dukungan rakyat. Kepala daerah idealnya merangkul rakyat sekaligus disiplin fiskal agar kebijakan tetap populer, efektif, dan berkelanjutan. Oleh: Silahudin Dosen FISIP Universitas Nurtanio Bandung   MENJUAL HARAPAN - KEGAGALAN Pemerintah Provinsi Jawa Barat membayar kontraktor sebesar Rp 621 miliar pada akhir tahun anggaran 2025, bukan sekadar angka di neraca keuangan. Hal ini, cermin besar yang memperlihatkan bagaimana gaya kepemimpinan populis, meski mampu membangun kedekatan ...

Tatap Pemilu 2029, PDIP Perluas Struktur Rakernas Jadi 7 Komisi

  Foto dok. DPP PDI Perjuangan JAKARTA , MENJUAL HARAPAN   – Bertepatan dengan peringatan HUT ke-53, PDI Perjuangan resmi membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I tahun 2026 di Beach City International Stadium (BCIS), Ancol, Jakarta Utara. Rakernas kali ini tampil beda dengan membawa format organisasi yang lebih gemuk dan substansial dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, mengungkapkan bahwa forum tertinggi partai ini bukan sekadar seremoni, melainkan momentum krusial untuk melakukan evaluasi total melalui kritik dan otokritik. Hal ini dilakukan guna mempertajam arah perjuangan partai dalam menjawab berbagai persoalan bangsa yang kian kompleks. Fokus pada Persoalan Rakyat Langkah nyata dari penguatan struktur ini terlihat dari pembentukan **tujuh komisi kerja**, melonjak signifikan dari format sebelumnya yang biasanya hanya terdiri dari tiga komisi utama. “Penambahan komisi ini adalah bukti bahwa partai menaruh skala priori...