MENJUAL HARAPAN - Pekan ke-12 Premier League musim ini menyuguhkan dinamika yang semakin kompleks di papan tengah klasemen. Sorotan utama jatuh pada kekalahan Manchester United dari Everton dengan skor tipis 0-1. Bermain di kandang sendiri, Setan Merah gagal mengonversi dominasi penguasaan bola menjadi gol, sementara Everton tampil efisien dan disiplin.
Gol tunggal Everton dicetak oleh Kieman Dewsbury-Hall pada menit ke-29, memanfaatkan kelengahan lini tengah MU yang gagal menutup ruang transisi. Dewsbury-Hall, yang musim ini tampil konsisten sebagai motor serangan, menyelesaikan peluang dengan tenang dari luar kotak penalti. Gol tersebut menjadi pembeda dalam laga yang secara statistik cukup berimbang.
Kekalahan ini membuat MU tertahan di peringkat ke-10 dengan 18 poin, sama dengan Everton yang naik ke posisi ke-11. Namun, MU unggul tipis dalam produktivitas gol. Hasil ini memperpanjang tren inkonsistensi MU yang dalam lima laga terakhir hanya meraih dua kemenangan, satu hasil imbang, dan dua kekalahan.
Di sisi lain, Arsenal semakin kokoh di puncak klasemen setelah meraih kemenangan kesembilan musim ini. Dengan 29 poin dan selisih gol +18, The Gunners menunjukkan stabilitas yang menjadi modal penting dalam perburuan gelar. Chelsea dan Manchester City membuntuti di posisi kedua dan ketiga, masing-masing dengan 23 dan 22 poin.
Aston Villa dan Crystal Palace juga tampil impresif. Villa menempati posisi keempat dengan 21 poin, sementara Palace di urutan kelima dengan 20 poin. Kedua tim menunjukkan keseimbangan antara lini serang dan pertahanan, dengan Palace hanya kebobolan sembilan gol dari 12 laga.
Brighton, Sunderland, dan Bournemouth bersaing ketat di zona 19 poin. Meski memiliki jumlah poin yang sama, ketiganya berbeda dalam selisih gol, yang bisa menjadi penentu krusial di akhir musim. Bournemouth menjadi satu-satunya tim di antara mereka yang memiliki selisih gol negatif (-1), menunjukkan bahwa lini belakang masih menjadi pekerjaan rumah.
Tottenham, yang biasanya menjadi pesaing empat besar, justru tertahan di posisi kesembilan. Dengan 18 poin dan selisih gol +4, Spurs belum menemukan konsistensi permainan. Hasil lima laga terakhir mereka menunjukkan pola naik-turun yang menghambat laju ke papan atas.
Kekalahan MU dari Everton bukan hanya soal kehilangan tiga poin, tapi juga soal mentalitas. Di tengah tekanan publik dan ekspektasi tinggi, performa MU belum menunjukkan arah yang jelas. Erik ten Hag, yang masih dipercaya sebagai pelatih, perlu merumuskan ulang strategi agar tim tidak terjebak dalam siklus stagnasi.
Everton, sebaliknya, menunjukkan bahwa efisiensi dan disiplin bisa menjadi senjata ampuh. Dengan materi pemain yang tidak seimpresif tim-tim besar, mereka mampu mencuri poin penting dan menjaga asa untuk menembus zona Eropa. Kemenangan atas MU menjadi bukti bahwa mereka bukan sekadar tim pengisi papan tengah.
Pekan ke-12 menjadi pengingat bahwa Premier League bukan hanya soal nama besar, tapi soal konsistensi, efisiensi, dan momentum. Dengan klasemen yang semakin rapat di papan tengah, setiap laga ke depan akan menjadi pertarungan mental dan taktik. MU harus segera bangkit, sementara tim-tim seperti Everton, Palace, dan Villa mulai menunjukkan bahwa mereka layak diperhitungkan. (S_267)

Komentar