Langsung ke konten utama

Catatan Akhir Tahun 2025: Dimensi Sosial-Ekonomi Rakyat Kecil

MENJUAL HARAPAN - TAHUN 2025 menutup fase awal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dengan catatan penting di bidang sosial-ekonomi rakyat kecil. Stabilitas politik dan ekonomi makro tidak otomatis berarti kesejahteraan rakyat kecil meningkat. Justru, dinamika harga pangan, akses pekerjaan, dan daya beli menjadi indikator nyata yang dirasakan masyarakat sehari-hari. Laporan Katadata (2025) menegaskan bahwa “tantangan berat mengejar pertumbuhan ekonomi berdampak langsung pada daya beli rakyat kecil.”

Program makan bergizi gratis di sekolah menjadi salah satu kebijakan yang menyentuh kehidupan rakyat kecil. Hunneman (2025) menilai bahwa “program sosial ini menyentuh urat nadi rakyat,” karena langsung berhubungan dengan kebutuhan dasar anak-anak dari keluarga miskin. Namun, keberhasilan program ini bergantung pada distribusi yang adil dan kualitas gizi yang terjaga.

Isu harga pangan tetap menjadi sorotan. Sepanjang 2025, fluktuasi harga beras dan kebutuhan pokok menekan daya beli masyarakat. Laporan INDEF (2025) menekankan bahwa “tantangan pelik kabinet baru adalah meningkatkan daya beli rakyat kecil sambil menopang industri.”

Di sektor tenaga kerja, rakyat kecil menghadapi ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akibat pelemahan pasar. Katadata (2025) mencatat bahwa “perlindungan tenaga kerja menjadi agenda mendesak,” terutama bagi pekerja informal yang tidak memiliki jaminan sosial.

Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) tetap menjadi tulang punggung rakyat kecil. Namun, BPJS Kesehatan (2025) melaporkan defisit anggaran yang berulang, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan keberlanjutan layanan. Hal ini memperlihatkan bahwa rakyat kecil masih rentan terhadap biaya kesehatan.

Di sektor pendidikan, rakyat kecil mendapat manfaat dari kebijakan afirmatif seperti program gizi gratis dan subsidi pendidikan. Namun, Balitbangdikbud (2025) menegaskan bahwa “kesenjangan kualitas pendidikan antar daerah masih besar,” sehingga anak-anak dari keluarga miskin tetap menghadapi hambatan struktural.

Rakyat kecil di pedesaan menghadapi tantangan akses terhadap pasar dan infrastruktur. Laporan UGM (2025) menekankan bahwa “ketimpangan pembangunan desa-kota masih menjadi masalah utama.” Hal ini memperlihatkan bahwa kebijakan pemerataan belum sepenuhnya efektif.

Di sektor perumahan, rakyat kecil menghadapi kenaikan harga sewa dan keterbatasan akses terhadap program perumahan rakyat. Laporan Kementerian PUPR (2025) menegaskan bahwa “program perumahan rakyat masih belum menjangkau seluruh kelompok miskin.”

Isu gender dalam sosial-ekonomi rakyat kecil tetap relevan. UN Women (2025) menilai bahwa “perempuan di daerah terpencil masih menghadapi hambatan akses terhadap pekerjaan dan layanan sosial.” Kebijakan afirmatif diperlukan agar rakyat kecil benar-benar inklusif.

Di tingkat lokal, komunitas adat memperlihatkan praktik ekonomi berbasis solidaritas. Kampung Adat Cireundeu, misalnya, mempertahankan pangan lokal sebagai strategi ketahanan ekonomi rakyat kecil. Praktik ini menunjukkan bahwa ekonomi rakyat tidak hanya soal angka, tetapi juga soal budaya dan identitas.

Narasi pemerintah tentang sosial-ekonomi rakyat kecil sering menekankan stabilitas. Namun, sebagaimana dicatat Umbas (2025), “panggung pembuktian janji kampanye harus dieksekusi menjadi kebijakan yang menyentuh urat nadi rakyat.” Dalam konteks rakyat kecil, hal ini berarti kebijakan harus benar-benar dirasakan di meja makan dan dompet warga.

Demokrasi ekonomi menjadi agenda penting. Transparency International Indonesia (2025) menegaskan bahwa “partisipasi rakyat kecil dalam kebijakan ekonomi harus dijamin substansinya, bukan sekadar formalitas.”

Refleksi akhir tahun menunjukkan bahwa sosial-ekonomi rakyat kecil adalah arena yang menentukan legitimasi pemerintahan. Ketika rakyat kecil merasakan manfaat kebijakan, legitimasi bertambah; ketika rakyat kecil tetap terpinggirkan, legitimasi tergerus.

Catatan akhir tahun 2025 di bidang sosial-ekonomi rakyat kecil menegaskan bahwa keberhasilan pemerintahan tidak hanya diukur dari stabilitas makro, tetapi dari kualitas hidup rakyat kecil. Seperti diingatkan INDEF (2025), “tantangan pelik kabinet baru adalah meningkatkan daya beli rakyat kecil.” Refleksi ini menuntut integrasi antara politik, ekonomi, dan kebijakan sosial demi masa depan yang adil dan berdaya.*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hegemoni Ekologis

Oleh Silahudin MENJUAL HARAPAN -  RETORITKA pembangunan berkelanjutan, dan jargon hijau tampak kian populer di ruang-ruang kebijakan, akan tetapi, di balik itu juga tersembunyi satu paradoks besar, yaitu alam terus mengalami kerusakan struktural, walau keberlanjutannya digembar-gemborkan.  Pergulatan hidup kita, dalam realitasnya dikonstruksi oleh bahasa, dan narasi yang seolah peduli terhadap lingkungan, namun, secara praksis terus-menerus melegitimasi eksploitasi. Pada titik simpul inilah, letak hegemoni ekologis, bukan hanya dominasi atas alam, tetapi juga dominasi atas cara berpikir tentang alam. Memang, hegemonis ekologis bekerja secara halus melalui wacana yang kita anggap netral, seperti istilah "pemanfaatan sumber daya", "optimalisasi kawasan", atau "efisiensi energi", dan lain sejenisnya. Dalam tataran kerangka tersebut, alam dikonstruksi sebagai objek pasif yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan manusia. Kepentingan ekonomi diselubungi bahasa sa...

Ulasan Matchday Keenam Liga Eropa 2025/2026

MENJUAL HARAPAN - PEKAN keenam Liga Eropa musim 2025/2026 menutup babak penyisihan grup dengan drama yang tak kalah dari panggung utama Liga Champions. Malam penuh intensitas itu menghadirkan kejutan, kepastian, dan tragedi bagi tim-tim yang gagal memanfaatkan momentum terakhir. Dari Glasgow hingga Lyon, dari Porto hingga Basel, setiap stadion menjadi panggung cerita yang akan dikenang sepanjang musim. Celtic Park yang biasanya bergemuruh justru menjadi saksi bisu keperkasaan AS Roma. Tim Serigala Ibukota tampil dingin dan klinis, menggilas Celtic dengan skor telak 0-3. Roma menunjukkan kedewasaan taktik, seakan ingin menegaskan bahwa mereka bukan sekadar penggembira di kompetisi ini. Celtic, yang sempat berharap pada dukungan publik Skotlandia, justru terlihat kehilangan arah sejak menit awal. Di Bucharest, drama sesungguhnya terjadi. FCSB menjamu Feyenoord dalam duel yang berakhir dengan skor gila: 4-3. Pertandingan ini layak disebut sebagai pesta gol yang penuh emosi. FCSB, dengan d...

Fiorentina Vs Verona, Udinese Vs Napoli, dan Milan Imbang Lawan Sassuolo

  MENJUAL HARAPAN - Tuan rumah Fieorentina alami kekalahan dari Verona dengan skor gol 1-2 pada pekan ke-15. Fiorentina berada di zona degradasi dengan koleksi 6 poin, sedangkan Verona berada di urutan ke-18 dengan koleksi 12 poin pada klasemenn sementara Serie A pekan kelima belas. Adapun pada pertandingan lainnya, Udinese mengalahkan Napoli dengan skor gol 1-0. Gol semata wayang Udinese dicetak Jurgen Ekkelenkamp, dan kini Udinese berada di urutan ke-10 dengan 21 poin, sementara Napoli sendiri masih bertengger di papan atas urutan ke-3 dengan koleksi 31 poin pada klasemen sementara Serie A pekan ke-15. Sedangakn, Milan menjamu Sassuolo berakhir dengan skor gol 2-2. Masing-masing dua gol itu, AC Milan terlebih dahulu kecolongan gawangnya pada menit ke-13 lewat tendangan Ismael Kone. Namun, tuan rumah AC Milan berhasil menyamakan kedudukan gol 1-1 pada menit ke-34 lewat tusukan Devide Bartesaghi. Selanjutny,a pada menit ke-47, tuan rumah AC Milan berhasil unggul lebih dahulu yang d...