Langsung ke konten utama

Pancasila



MENJUAL HARAPAN - Mentari pagi menyapa lembut jendela kontrakan Bu Siti di gang sempit Bandung. Aroma kopi tubruk yang diseduh pagi-pagi buta sudah menyeruak, bercampur bau asap knalpot motor yang mulai ramai. Di ruang tengah yang sederhana, tergantung rapi sebuah pigura berisi lima simbol berbeda di bawah tulisan besar: PANCASILA.


Bukan tanpa alasan Bu Siti memasang pigura itu di tempat paling mudah dilihat. Baginya, lima sila itu bukan sekadar hafalan masa sekolah, tapi pegangan hidup.

Pagi itu, seperti biasa, Bu Siti bersiap membuka warung nasi kecilnya di ujung gang. Langkahnya ringan, senyumnya tulus menyapa setiap tetangga yang berpapasan. Ia tak pernah membeda-bedakan, dari tukang becak yang mangkal di dekat gang, mahasiswa kos yang sering sarapan di warungnya, hingga keluarga Pak Lurah yang kadang memesan nasi kotak untuk acara.

Suatu siang, keributan kecil pecah di depan warung Bu Siti. Dua anak muda berselisih paham, nyaris adu jotos gara-gara masalah parkir motor. Bu Siti dengan sigap melerai. Suaranya yang lembut namun tegas mampu meredakan emosi keduanya.

"Nak, coba ingat lagi, kita ini satu bangsa. Boleh beda pendapat, tapi jangan sampai berkelahi," ujarnya sambil menunjuk pigura Pancasila di dinding warungnya. "Lihat itu, sila ketiga, Persatuan Indonesia. Masa gara-gara motor jadi pecah?"

Kedua anak muda itu terdiam, menunduk malu. Mereka akhirnya saling bersalaman, berjanji menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.

Malam harinya, warung Bu Siti didatangi seorang bapak tua yang tampak kebingungan. Ia tersesat dan tidak tahu arah pulang. Tanpa ragu, Bu Siti mengajaknya masuk, memberinya makan dan minum. Ia lalu menghubungi ketua RT setempat, dibantu beberapa warga, akhirnya bapak tua itu bisa diantar kembali ke keluarganya.

"Kita ini makhluk sosial, Nak. Saling membantu itu kewajiban," kata Bu Siti kepada salah satu pembeli yang bertanya kenapa ia begitu repot menolong orang asing. "Sila kedua Pancasila, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, mengingatkan kita untuk selalu punya rasa iba dan saling menghormati."

Beberapa bulan kemudian, pemilihan ketua RT diadakan. Suasana sempat memanas karena perbedaan dukungan. Beberapa warga mulai saling sindir dan menyebarkan gosip. Bu Siti kembali turun tangan. Ia mengajak semua warga berkumpul di balai RW.

"Mari kita musyawarahkan baik-baik, seperti sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan," ujarnya dengan tenang. "Kita semua punya hak suara, tapi kita juga harus menghargai pendapat orang lain. Tujuan kita sama, ingin RT kita menjadi lebih baik."

Dengan kesabaran dan kebijaksanaannya, Bu Siti berhasil menenangkan suasana. Pemilihan berjalan lancar dan damai.

Suatu sore, seorang pengusaha kaya berinvestasi di kampung mereka. Ia membangun sebuah pabrik yang menjanjikan banyak lapangan kerja. Namun, sebagian warga khawatir pabrik itu akan mencemari lingkungan dan menggusur rumah mereka.

Bu Siti kembali menjadi penengah. Ia mengumpulkan warga dan perwakilan perusahaan. Dengan berani, ia menyampaikan aspirasi warga, meminta jaminan perlindungan lingkungan dan keadilan bagi mereka yang terkena dampak pembangunan.

"Kita tidak menolak kemajuan, tapi kita juga punya hak untuk hidup sejahtera dan sehat," tegas Bu Siti. "Sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, harus kita pegang teguh. Pembangunan harus membawa manfaat bagi semua, bukan hanya segelintir orang."

Perundingan berjalan alot, namun berkat kegigihan Bu Siti dan kesediaan pihak perusahaan untuk mendengarkan, akhirnya sebuah kesepakatan yang adil berhasil dicapai.

Bu Siti memang hanya seorang pemilik warung nasi sederhana. Namun, dalam setiap tindakannya, tercermin nilai-nilai luhur Pancasila. Ia tidak menggurui dengan kata-kata yang tinggi, tapi menunjukkannya melalui perbuatan nyata. Di gang sempit Bandung itu, Pancasila bukan hanya pajangan di dinding, tapi benar-benar hidup dan diamalkan dalam setiap interaksi dan keputusan. Dan dari kesederhanaan Bu Siti, banyak orang belajar arti sesungguhnya dari lima sila yang menjadi dasar negara mereka. (S. Sutisna)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Prabowo Angkat 26 Anggota Wantimpres, Pratikno Jadi Ketua

Presiden Prabowo Subianto resmi menangkat 26 anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Republik Indonesia pada Jumat, 2 Oktober 2026 di Istana Negara, Jakarta. Foto: BPMI Setpres/Kris MENJUAL HARAPAN — Presiden Prabowo Subianto resmi mengangkat 26 anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Republik Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Jumat (2/10/2026). Dalam susunan baru tersebut, Pratikno ditetapkan sebagai Ketua merangkap anggota, Muhammad Hatta Rajasa sebagai Wakil Ketua merangkap anggota, dan Muhammad Qodari sebagai Sekretaris merangkap anggota. Pengangkatan tersebut didasarkan pada Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 107/P Tahun 2026 tentang Pengangkatan Keanggotaan Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia . Pelantikan 26 anggota Wantimpres itu menandai terbentuknya susunan baru lembaga yang memiliki posisi sebagai bagian dari mekanisme pemberian pertimbangan kepada Presiden dalam menjalankan pemerintahan. 26 Nama dalam Susunan Wantimpres Berdasarka...

Polytron Surabaya International Challenge 2026: Kejutan Salsabila Tumbangkan Unggulan Utama, Wakil Indonesia Melenggang dari Babak 32 Besar

  Salsabila Amiradana (Foto dok pbsi.id) MENJUAL HARAPAN — Kejutan besar mewarnai gelaran Polytron Surabaya International Challenge 2026 di babak 32 besar (R32) yang berlangsung pada Rabu (23/9/2026) . Pebulu tangkis tunggal putri Indonesia, Salsabila Amiradana, sukses mencuri perhatian usai menumbangkan unggulan pertama asal Thailand, Passa-Orn Phannachet, dua gim langsung . Kemenangan mengejutkan Salsabila ini melengkapi raihan positif sejumlah wakil Merah Putih lainnya yang juga berhasil mengamankan tiket ke babak berikutnya . Kejutan Manis Salsabila Amiradana Tampil tanpa beban, Salsabila tampil memukau saat menghadapi unggulan teratas Passa-Orn Phannachet . Ia menyegel kemenangan 21-14, 21-18 dalam laga yang berlangsung disiplin . "Alhamdulillah hari ini bisa bermain sesuai rencana dan dijauhkan dari cedera. Di gim pertama saya langsung masuk mainnya dan lawan pun kurang panas," ungkap Salsabila usai laga . Kunci keberhasilannya mengunci gim kedua—meski sempat tertingga...

Anomali Tata Kelola dan Paradoks Kebijakan: Menagih Kehadiran Negara dalam Dialektika Hukum, Agraria, dan Pendidikan

Ringkasan Esai 1.       Pendahuluan: Membingkai perdebatan hukum, agraria, dan pendidikan dalam kerangka sosiologi politik dan tata kelola pemerintahan ( good governance ). 2.       Bedah Isu 1 (RUU Perampasan Aset): Mengkritik penyelewengan barang rampasan oleh oknum aparat dan menagih transparansi digital. 3.       Bedah Isu 2 (Uji Materiil KUHAP 2025): Menganalisis potensi hegemoni Polri atas PPNS serta risiko diskresi penggeledahan tanpa izin ( due process of law ). 4.       Bedah Isu 3 (Reforma Agraria): Menganalisis efektivitas kelembagaan LPRA langsung di bawah Presiden dalam meredistribusi tanah dan menyelesaikan konflik. 5.       Bedah Isu 4 (Dekolonisasi RUU Sisdiknas): Mengulas pemikiran Bonnie Triyana mengenai pentingnya menghapus bias kolonial terhadap penganut kepercayaan. 6.       Bedah Isu 5 (KIP Kuliah & Pagu Angg...