Langsung ke konten utama

Menyoroti Partnership Building Reformasi Polri


Ilustrasi  (foto hasil tangkapan layar dari https://www.hukumonline.com)



Oleh Silahudin*)


Dorongan objektif maupun subjektif terhadap pembenahan rezim Polri, secara niscaya, terus menerus disuarakan oleh berbagai kalangan. Entah itu berupa hujatan-hujatan yang acapkali (kalau tidak selalu) muncul, karena Polri dianggap tidak peka terhadap kemauan publik. Bahkan secara kultur Polri masih elitis dan bertindak militeristis. Padahal, Polri sebagaimana dimanatkan Undang-Undang Dasar 1945, menjaga keamanan, ketertiban, dan mengayomi.


Pertanyaannya, bagaimana dengan grand strategy reformasi birokrasi Polri? Apakah sudah terinternalisasi reformasinya itu, atau jangan-jangan reformasinya itu sekadar lip service dan tidak membumi terhadap perilaku Polri itu sendiri? Sementara sikap “gagah-gagahan” terus terulang seperti kasus kekerasan di Mesuji (Lampung dan Sumatera Selatan) dan Sape, Bima (Nusa Tenggara Barat).  Catatan kecil ini dimaksudkan untuk mengingatkan kembali atas agenda reformasi birokrasi Polri itu sendiri.


Grand strategy reformasi birokrasi Polri, sebagai titik pijak memulihkan kepercayaan publik. Kepercayaan publik merupakan energi bagi Polri dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Persoalannya, Polri berada pada titik nadir krisis kepercayaan publik, sehingga upaya memulihkannya harus sungguh-sungguh membumi dalam perilaku Polri itu sendiri. Dengan perkataan lain, sudah sejauhmana reformasi birokrasi Polri yang dikenalkan dalam tahap pertamanya, yaitu  trust building.


Trust building sebagai agenda pembenahan Polri tahap pertama, patut dikritisi. Apakah sudah dipahami dan terinternalisasi pada semua lapisan di tubuh kepolisian (?) Tanpa dipahami dan terinternalisasi, sangat sulit melangkah ke tahap berikutnya. Itu sebabnya, membangun kepercayaan masyarakat menuju Polri yang mandiri, profesisonal dan dapat dukungan publik tentu saja patut dikembalikan lagi kepada kepolisian itu sendiri.  Mengembalikan kepercayaan publik terhadap institusi ini, hakikatnya adalah menata ulang kelembagaan dan mental-mental serta perilaku Polri. Dengan menata itu,  Polri menjadi dambaan semua orang.


Memang, goncangan di akhir-akhir tahap pertama tersebut, justru menjadi perhatian publik dengan terbongkarnya kasus korupsi Gayus Tambunan yang melibatkan oknum polisi.


Di tengah upaya Polri membangun kepercayaan publik (trust building), kasus Gayus “mencederai”. Tahap pertama reformasi Polri ini, sesungguhnya merupakan bagian tak terpisahkan, atau sebagai entry point tahap-tahap berikutnya. Yaitu tahap kedua (2010-2014), sebagai tahap partnership building (membangun kemitraan).


Memang, butuh keikhlasan untuk mereform diri Polri dari Polri sendiri dengan niat yang tulus mengembalikan kepercayaan dan dukungan publik terhadap Polri. Oleh karena itu, Polri dengan tugasnya yang diamanatkan oleh UU No. 2 Tahun 2002 tentang Polri, Pasal 13, adalah: a) memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat; b) menegakkan hukum; dan c) memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat.


Tugas tersebut, sulit tercapai jika peranserta masyarakat tidak ada. Kepolisian di mata public diskriminatif, kuran peka, kurang profesional, dan arogan dalam memberikan pelayanan.
Bahkan bisa jadi, lahirnya lembaga-lembaga ad hoc yang tugas dan fungsinya tidak jauh berbeda dengan kepolisian, seperti KPK dan Tim Pencari Fakta, Satgas Anti Mafia Peradilan, dan lain-lain, berada dalam ruang lingkup yang menunjukkan karena Polri masih “bermain-main” dengan tugas yang diembankannya. Polri belum dapat menyelesaikan dan memuaskan masyarakat. 


Sungguh, ujian yang tidak mudah untuk diselesaikan dan diyakinkan terhadap publik. Namun, suka tidak suka harus dijalankan dan diselesaikan dengan memperlihatkan wajah kepolisian yang peduli terhadap kepentingan publik, dan bukan kepentingan penguasa dan alat pemodal besar. Atau dalam bahasa lain, reformasi kultural Polri adalah dengan mengedepankan perilaku Polri yang simpatik, menghargai hak-hak sipil, bersahabat, tidak memperlihatkan wajah arogan atau karakteristik militer.


Dengan demikian, bila publik masih memperlihatkan ketidakpercayaan terhadap Polri, tak perlu disesali. Justru hal tersebut sebagai input dari belum berubahnya perilaku Polri, sehingga Polri “tersandera” oleh citra buruk.


Seiring dengan persoalan-persoalan yang dihadapi Polri, publik berharap, komitmen Polri dalam membenahi dirinya dengan mengoptimalkan reformasi birokrasi Polri agar fungsional dengan kultur sipilnya. Toh, UU No. 2 Tahun 2002 tersebut telah mengarahkan Polri pada perubahan struktural, instrumental dan kultural. Semoga*
 
*) Tulisan ini dimuat di Inilah Koran, Kamis, 12 Januari 2012) 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DPR Wanti-Wanti RUU Perampasan Aset: Fokus Koruptor, Jangan Jadi Celah Abuse of Power Penegak Hukum

MENJUAL HARAPAN — Semangat memiskinkan koruptor melalui Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset jangan sampai mengorbankan hak-hak masyarakat sipil. Ketegasan regulasi pemberantasan korupsi harus berjalan selaras dengan kepastian hukum agar tidak memicu praktik penyalahgunaan kewenangan ( abuse of power ) oleh aparat penegak hukum. Penegasan tersebut disampaikan oleh Anggota Komisi III DPR RI I Wayan Sudirta saat menyerap aspirasi akademisi dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) di Gedung Nusantara II, Senayan, Jakarta, Rabu (26/8/2026). Wayan menggarisbawahi bahwa tuntutan publik atas ketegasan pemberantasan korupsi memang tidak bisa ditawar lagi. Namun, belajar dari perumusan regulasi di berbagai negara maju, perumusan norma RUU Perampasan Aset sejak awal harus presisi agar benar-benar mengunci sasaran utamanya: para pelaku tindak pidana korupsi. "Begitu undang-undang ini disahkan... kami ingin memastikan dengan bantuan narasumber, pastikan dong bahwa RUU ini diundang...

La Liga 2026/2027: Espanyol Kontra Real Madrid Berskor Gol 1-2

MENJUAL HARAPAN - Pertandingan pekan awal La Liga musim 2026/2027 menyajikan duel dramatis di RCDE Stadium . Tuan rumah Espanyol harus merelakan poin terbang di hadapan pendukungnya sendiri setelah ditaklukkan oleh Real Madrid dengan skor tipis 1-2. Laga ini menjadi gambaran klasik bagaimana ketenangan dan pengalaman tim bermental juara mampu membalikkan keadaaan pada detik-detik krusial. Keunggulan Cepat dan Respons Tangguh Tuan Rumah Sejak peluit kick-off dibunyikan, Real Madrid tampil menekan dan mengambil inisiatif serangan secara agresif. Efektivitas serangan tim tamu terbukti ampuh pada menit ke-9. Jude Bellingham memecah kebuntuan lewat sepakan terukur yang membobol gawang Espanyol, mengubah skor menjadi 0-1 untuk Madrid. Tertinggal satu gol tidak membuat Espanyol patah arang. Anak-anak Catalonia berusaha bangkit dengan melancarkan gelombang serangan ke area pertahanan Madrid. Kerja keras tuan rumah membuahkan hasil pada menit ke-30. Menerima celah di lini belakang Madrid, Ál...

Tekuk Athletic Bilbao 2-0, Barcelona Mantapkan Posisi di Puncak Klasemen La Liga

MENJUAL HARAPAN — Barcelona melanjutkan tren positif mereka pada jornada kedua La Liga 2026/2027 setelah menundukkan Athletic Bilbao dengan skor 2-0 di Stadion Camp Nou pada Jumat (28/8/2026) dini hari WIB. Dua gol kemenangan Blaugrana masing-masing dilesakkan oleh Raphinha pada babak pertama dan Fermín López menjelang akhir babak kedua. Sejak peluit awal dibunyikan, tuan rumah langsung mengendalikan jalannya laga dan memegang inisiatif serangan. Kendati dominan, Barcelona mendapat perlawanan sengit dari Bilbao yang tampil disiplin dan sesekali mengancam lini pertahanan tuan rumah melalui skema serangan balik . Kebuntuan akhirnya pecah pada menit ke-37. Berawal dari skema serangan yang rapi, Raphinha melepaskan tembakan menusuk yang gagal dihalau kiper Bilbao, mengubah papan skor menjadi 1-0 hingga babak pertama usai. Memasuki babak kedua, Blaugrana kian gencar melancarkan gelombang serangan untuk menambah keunggulan. Bilbao yang berupaya mengejar ketertinggalan terus berusaha ...