Langsung ke konten utama

Narasi yang Dikuasai Negara



MENJUAL HARAPAN - Setiap bangsa hidup dari narasi. Ia adalah benang yang merajut identitas, membentuk ingatan, dan menentukan arah. Namun, ketika narasi hanya dimiliki oleh negara, maka yang lahir bukan kebangsaan, melainkan penghapusan. Warga tak lagi punya ruang untuk bercerita.

Narasi resmi sering kali dibentuk dari atas. Ia ditulis dalam buku pelajaran, disampaikan dalam pidato, dan diputar dalam media. Tokoh-tokoh dipilih, peristiwa diseleksi, dan makna ditentukan. Sejarah menjadi milik negara, bukan milik rakyat.

Narasi yang dikuasai negara juga membentuk cara kita memahami masa lalu. Perlawanan dianggap gangguan, kritik dianggap ancaman, dan keragaman dianggap penyimpangan. Sejarah disederhanakan, kompleksitas dihapuskan, dan luka disembunyikan.

Dalam refleksi filosofis, narasi adalah ruang perebutan makna. Ia bukan hanya soal cerita, tetapi soal siapa yang berhak bicara. Ketika negara memonopoli narasi, maka warga kehilangan suara. Demokrasi menjadi sunyi.

Narasi resmi juga membentuk identitas nasional yang sempit. Kita diajarkan untuk bangga pada simbol, tetapi tak diajak memahami sejarah lokal. Kita diminta menghafal, bukan menggali. Identitas menjadi seragam, bukan beragam.

Dalam sistem pendidikan, narasi yang dikuasai negara menjadi kurikulum. Anak-anak belajar tentang pahlawan yang ditentukan, tentang peristiwa yang dipilih, dan tentang makna yang sudah ditetapkan. Tak ada ruang untuk bertanya, tak ada ruang untuk menafsir.

Narasi juga digunakan untuk membenarkan kebijakan. Proyek pembangunan diberi nama patriotik, penggusuran disebut revitalisasi, dan eksploitasi disebut investasi. Bahasa menjadi alat manipulasi. Narasi menjadi topeng.

Dalam media, narasi resmi diperkuat. Tayangan penuh simbol, berita penuh jargon, dan konten penuh glorifikasi. Kritik disensor, suara warga diabaikan, dan narasi tandingan dianggap subversif. Media menjadi corong, bukan ruang dialog.

Narasi yang dikuasai negara juga menghapus trauma. Peristiwa kelam disingkirkan, korban tak diakui, dan luka tak disembuhkan. Kita diajarkan untuk melupakan, bukan untuk memahami. Ingatan kolektif menjadi amputasi.

Namun, warga punya narasi sendiri. Tentang perjuangan mempertahankan tanah, tentang solidaritas di tengah krisis, tentang kreativitas di tengah keterbatasan. Narasi ini hidup, meski tak diakui. Ia adalah bentuk perlawanan.

Narasi warga merupakan narasi yang berakar. Ia lahir dari pengalaman, dari relasi, dan dari keberpihakan. Ia tak selalu rapi, tak selalu formal, tetapi selalu bermakna. Narasi ini harus diangkat, bukan disingkirkan.

Dalam pendekatan visual, narasi bisa divisualisasikan sebagai mosaik. Poster yang menggambarkan sejarah lokal, booklet tentang perjuangan komunitas, dan infografis tentang suara warga bisa menjadi alat pendidikan. Visual menjadi ruang tafsir.

Narasi juga harus masuk dalam kurikulum partisipatif. Anak-anak harus diajak menulis cerita komunitas, menggali sejarah keluarga, dan membangun makna bersama. Pendidikan harus menjadi ruang narasi, bukan hanya ruang hafalan.

Dan mungkin, bangsa yang sehat adalah bangsa yang berani mendengar semua cerita. Yang tak takut pada kompleksitas, yang tak menutup luka, dan yang tak memonopoli makna. Narasi harus dibuka, bukan dikunci.

Episode ini merupakan ajakan untuk membebaskan narasi dari monopoli negara. Agar warga bisa bicara, agar sejarah bisa jujur, dan agar identitas bisa beragam. Karena bangsa tanpa cerita warga adalah bangsa yang kehilangan jiwa. (Seri-10 dari Refleksi Kemerdekaan)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hegemoni Ekologis

Oleh Silahudin MENJUAL HARAPAN -  RETORITKA pembangunan berkelanjutan, dan jargon hijau tampak kian populer di ruang-ruang kebijakan, akan tetapi, di balik itu juga tersembunyi satu paradoks besar, yaitu alam terus mengalami kerusakan struktural, walau keberlanjutannya digembar-gemborkan.  Pergulatan hidup kita, dalam realitasnya dikonstruksi oleh bahasa, dan narasi yang seolah peduli terhadap lingkungan, namun, secara praksis terus-menerus melegitimasi eksploitasi. Pada titik simpul inilah, letak hegemoni ekologis, bukan hanya dominasi atas alam, tetapi juga dominasi atas cara berpikir tentang alam. Memang, hegemonis ekologis bekerja secara halus melalui wacana yang kita anggap netral, seperti istilah "pemanfaatan sumber daya", "optimalisasi kawasan", atau "efisiensi energi", dan lain sejenisnya. Dalam tataran kerangka tersebut, alam dikonstruksi sebagai objek pasif yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan manusia. Kepentingan ekonomi diselubungi bahasa sa...

Ulasan Matchday Keenam Liga Eropa 2025/2026

MENJUAL HARAPAN - PEKAN keenam Liga Eropa musim 2025/2026 menutup babak penyisihan grup dengan drama yang tak kalah dari panggung utama Liga Champions. Malam penuh intensitas itu menghadirkan kejutan, kepastian, dan tragedi bagi tim-tim yang gagal memanfaatkan momentum terakhir. Dari Glasgow hingga Lyon, dari Porto hingga Basel, setiap stadion menjadi panggung cerita yang akan dikenang sepanjang musim. Celtic Park yang biasanya bergemuruh justru menjadi saksi bisu keperkasaan AS Roma. Tim Serigala Ibukota tampil dingin dan klinis, menggilas Celtic dengan skor telak 0-3. Roma menunjukkan kedewasaan taktik, seakan ingin menegaskan bahwa mereka bukan sekadar penggembira di kompetisi ini. Celtic, yang sempat berharap pada dukungan publik Skotlandia, justru terlihat kehilangan arah sejak menit awal. Di Bucharest, drama sesungguhnya terjadi. FCSB menjamu Feyenoord dalam duel yang berakhir dengan skor gila: 4-3. Pertandingan ini layak disebut sebagai pesta gol yang penuh emosi. FCSB, dengan d...

Pekan ke-19 Premier League: Chelsea Vs Bournemouth, West Ham Lawan Brighton, dan MU Vs Wolves, Hasilnya Imbang

  MENJUAL HARAPAN - Pekan ke-19 Premier League atau Liga Inggris musim 2025-2026 menyuguhkan pertandingan lanjutan di antaranya Chelsea berhadapan dengan Bourneout, Manchester United versus Wolves, dan West Ham lawan Brighton. Chelsea Vs Bournemouth T uan rumah Chelsea kontra Bournemouth berakhir imbang dengan skor gol akhir 2-2. B ertanding langsung digelar di di Stadion Stamford Bridge, London,  Rabu dini hari WIB   (31/12/2025) , tuan rumah Chelsea kebobolah lebih dahulu di menit ke-6, dimana David Brooks menggetarkan gawang kiper Chelsea. S embilan menit kemudian (15’), Chelsea berhasil membalasnya lewat tendangan penalti Cole Palmer, sehingga kedudkan menjadi 1-1. D uel babak pertama kedua tim ini sungguh sangat menengangkan, adu serang tiada henti mengancam pertahanan dan gawang kiper maisng-masing. A ksi serangan terus terujadid, utamanya tuan yang tidak mau kehilangan poin, terus menekan, sehingga pada menit ke-23, Enzo Fernandez berhasil mencetak gol ke gawang ki...